Learn How to Unlearn, then Relearn

Apa itu unlearning dan mengapa itu penting?

Dilarang berjabat tangan. Siapa yang menyangka bahwa ada saat di mana kita dilarang berjabat tangan? Sebagai bangsa yang punya budaya untuk memberi salam dengan berjabat tangan, aneh rasanya ketika bertemu seseorang dan tidak berjabat tangan. Tapi inilah new normal yang kita jalani saat ini. Pernah mengalami rasa canggung saat bertemu teman, lalu hanya bisa saling menyapa tanpa berjabat tangan ala anak muda? Atau pernah diajak berjabat tangan dengan bapak-bapak atau ibu-ibu kemudian bingung harus apa, sampai akhirnya si bapak/ibu tersebut sadar bahwa saat ini tidak boleh berjabat tangan? Ini adalah proses penyesuaian dan pembelajaran otak dan diri kita, untuk mengubah kebiasaan kita, mengubah sesuatu yang sebelumnya kita yakini harus dilakukan menjadi sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Proses ini disebut unlearning dan relearning. Dalam artikel ini, dikarenakan keterbatasan padanan kata dalam Bahasa Indonesia, saya akan tetap menggunakan kata unlearning dan relearning dalam Bahasa Inggris.

Master Yoda, sang guru Jedi di film Star Wars, berkata kepada Luke Skywalker ketika sedang melatih Luke mengendalikan force (energi), “You must unlearn what you have learned.” Luke saat itu bersikeras mengikuti pemikirannya sendiri, bahkan meragukan dan tidak mempercayai ajaran Yoda. Lalu apa maksud dari perkataan Yoda tersebut? Cerita lain yang juga bisa menggambarkan situasi yang sama adalah ketika Nan-in, seorang Zen Master dari Jepang, kedatangan seorang profesor yang penasaran tentang konsep Zen. Nan-in kemudian menuangkan teh untuk profesor tersebut hingga gelas tehnya penuh, namun Nan-in tidak berhenti sampai tehnya meluap dan tumpah dari gelas tersebut. Profesor itu dengan gelisah kemudian berkata, “Itu sudah penuh! Tidak akan muat lagi!” Lalu Nan-in berkata kepada profesor itu, “Sama seperti gelas ini, Anda terlalu penuh dengan pendapat dan spekulasi Anda sendiri. Bagaimana saya bisa menunjukkan Anda Zen kecuali Anda mengosongkan gelas Anda terlebih dahulu?”

You must unlearn what you have learned.” – Master Yoda

Dari cerita Master Yoda dan Master Nan-in, pesan yang ingin disampaikan adalah jika kita ingin mempelajari sesuatu, terutama hal yang baru, kita harus mengosongkan atau mengesampingkan terlebih dahulu apa yang kita sudah tahu atau pelajari, bahkan sampai kepada kepercayaan kita, prinsip kita, dan nilai-nilai yang kita anut. Ini yang dimaksudkan dengan konsep unlearning. Ada beberapa definisi berbeda yang pada dasarnya memiliki makna yang sama mengenai unlearning. Menurut Barry O’Reilly, penulis buku Unlearn, unlearning adalah, “the process of letting go, reframing or moving away from one’s useful mindset or acquired behaviors that were effective in the past but now limit our success.” Proses melepaskan, membentuk ulang atau beralih dari pola pikir yang berguna atau perilaku yang dimiliki, yang tadinya efektif di masa lalu namun sekarang menghambat kesuksesan kita.

Alvin Toffler, seorang penulis, pebisnis dan futurist pernah menulis, “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” Diterjemahkan demikian, “Orang yang berliterasi rendah di abad 21 bukanlah orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang yang tidak bisa learn, unlearn, and relearn.” Artinya, siapa yang tidak bisa menerapkan konsep “Learn, unlearn, and relearn“, tidak akan bisa bersaing di abad 21, khususnya secara profesional di dunia kerja.

Secara sederhana, konsep “Learn, unlearn, and relearn” berbicara mengenai kemampuan kita untuk beradaptasi, menyesuaikan pemikiran, pengetahuan, dan keseluruhan diri kita pada perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi dan perkembangan zaman secara keseluruhan. Konsep ini sangat penting untuk dikuasai karena perubahan datang begitu cepat di masa kini, terlebih lagi dengan adanya pandemi COVID-19 yang dalam sekejap mengubah dunia ini dan tentunya masa depan setelah COVID-19 ini dapat diatasi.

Kerja dari kantor, presentasi tatap muka, negosiasi secara langsung, dan meeting dalam satu ruangan merupakan hal yang sudah disepakati secara universal di seluruh dunia dan menjadi konsep yang baku tentang bagaimana kita bekerja. Namun pandemi COVID-19 memaksa kita untuk unlearn pemahaman kita tersebut, mengesampingkan pengetahuan/pemahaman kita yang sudah dibentuk sedemikian rupa, kemudian relearn hal-hal baru yang perlu kita pelajari untuk bisa menyesuaikan diri dan bertahan dalam kondisi saat ini. Kita perlu belajar bagaimana memimpin meeting secara online menggunakan platform seperti Zoom, Microsoft Team, Skype, dan lainnya. Kita harus belajar bagaimana membagi waktu dalam menyelesaikan pekerjaan dan juga mengurus anak di rumah, belajar melakukan presentasi/seminar yang bisa tetap interaktif dan engaging meskipun tidak secara langsung bertatap muka dengan para peserta, dan hal-hal lainnya yang berubah karena COVID-19.

Tanpa melakukan unlearning, kita akan kesulitan untuk relearning atau mempelajari hal-hal baru karena seperti dalam cerita Nan-in, kita akan seperti gelas yang terlalu penuh sehingga tidak bisa lagi dituangkan ilmu/hal baru. Unlearning juga perlu dilakukan karena tidak semua yang kita sudah pelajari atau kita pahami adalah hal yang baik/benar.

Bagaimana kita unlearn?

Bagaimana agar kita bisa melakukan proses unlearning tersebut? Pertama, identifikasi hal-hal yang baru, hal-hal yang sedang berkembang atau hal-hal yang dirasa sudah tidak relevan dan perlu diperbaharui. Proses ini dapat dilakukan dengan lebih optimal jika kita memiliki mindset untuk mempertanyakan apapun, berpikir kritis, dan menantang status quo. Mulai dari mempertanyakan kenapa.

Kenapa suatu proses harus dilakukan sedemikian rupa? Kenapa peraturannya dibuat sedemikian rupa? Kenapa perlu ada laporan akhir tahun? Kenapa perlu ada KPI? Banyak hal bisa dipertanyakan dengan pola pikir seperti ini dan jika jawaban dari pertanyaan kenapa tersebut adalah, “Karena udah dari dulu begitu” atau “Udah dari sananya seperti itu” atau “Karena senior kita begitu” atau “Ya semua orang melakukannya begitu”, maka besar kemungkinan hal tersebut perlu dipikirkan lagi, digali lebih dalam, dan bisa saja diubah untuk hasil atau kepentingan yang lebih baik. Jangan ragu atau malu untuk mempertanyakan hal-hal di sekitar kita, karena banyak orang sebenarnya melakukan sesuatu tanpa tahu alasannya, tanpa tahu kenapa mereka melakukan itu.

Jangan ragu atau malu untuk mempertanyakan hal-hal di sekitar kita

Perlu diingat bahwa dalam proses ini penting untuk kita memahami alasan atau latar belakang dari suatu hal yang kita pertanyakan, agar kita tidak seenaknya mengubah sesuatu tanpa alasan yang kuat. Biasakan diri kita untuk curious atau kepo dalam hal yang positif, bereksperimen dan mencoba-coba hal baru. Inovasi tidak akan tercipta jika kita takut gagal sebelum mencoba, dan takut dipertanyakan atau ditentang oleh orang lain. Para ilmuwan dan para penemu terkenal ada yang dibilang gila, bahkan dimasukkan ke penjara akibat penelitian mereka, sampai akhirnya mereka menemukan inovasi, baru kemudian semua orang memuji dan merasakan manfaat dari karya mereka.

Kedua, terima (accept) bahwa zaman sudah berubah, pemahaman kita sudah usang, apa yang kita tahu sudah tidak berlaku lagi, dan terima bahwa kita perlu mengesampingkan atau bahkan membuang apa yang sudah kita pelajari, untuk memberikan ruang bagi ilmu/pemahaman yang baru. Penolakan atau resistensi pasti terjadi di tahap ini dan menjadi tantangan bagi kita untuk bisa meredamnya lalu mencoba membuka diri untuk menerima hal baru. Jika kita merasa paling tahu, paling pintar dan paling benar, akan sangat sulit untuk bisa menerima bahwa kita perlu belajar lagi dan perlu berubah. Proses ini yang saya rasa menghambat sebagian besar orang, terutama orang dewasa atau orang yang sudah tua, untuk bisa beradaptasi dan berkembang karena pemahaman mereka sudah tertanam sedemikian rupa dalam waktu yang lama sehingga tidak semudah itu untuk mereka bisa menerima perubahan. ¬†Proses ini akan lebih mudah dijalankan jika kita rendah hati dan memiliki growth mindset, seperti peribahasa “Seperti padi, kian berisi kian merunduk”.

Jika kita merasa paling tahu, paling pintar dan paling benar, akan sangat sulit untuk bisa menerima bahwa kita perlu belajar lagi dan perlu berubah.

Ketiga, rangkul dan hadapi perubahan (embrace change). Jadikan perubahan sebagai tantangan yang bisa ditaklukan, bukan sebagai ancaman yang sulit dihadapi. Biasakan diri berada dalam ketidakpastian atau ketidaknyamanan, karena justru dalam situasi seperti itu kita bisa berkembang dan berubah. Step out of your comfort zone and you will find growth. Dari sini kita mulai masuk ke proses relearning.

 

Keempat, pelajari hal-hal baru dan lakukan eksperimen. Setelah kita selesai menerima bahwa kita perlu belajar dan mengesampingkan atau bahkan membuang pemahaman yang kita punya, langkah selanjutnya adalah mempelajari hal yang baru dan bereksperimen dengannya. Asah terus kreativitas kita agar kita bisa berinovasi. Di sini proses relearning itu terjadi.

 

Kelima, terapkan ilmu/pemahaman baru yang kita pelajari, terapkan konsep “Learn, unlearn, and relearn” dalam keseharian kita, latih terus diri kita untuk bisa tetap aware dengan keadaan sekitar dan terus mau berubah jika saatnya tiba, dan antisipasi perubahan-perubahan yang akan datang agar kita bisa lebih mempersiapkan diri.

 

Semoga dengan mempelajari konsep “Learn, unlearn, and relearn“, kita bisa lebih siap menghadapi perubahan, lebih mudah beradaptasi, dan bisa terus bertahan di tengah segala ketidakpastian yang terjadi di kehidupan kita sekarang dan di masa depan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top