Strategi Human Resource Pasca Pandemi

strategi human resource - learn to plan, plan to learn

Tidak bisa dipungkiri, pandemi global telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk pekerjaan. Tak hanya karyawan, perubahan ini pun menjadi tantangan sendiri bagi human resource (HR). Terlebih dalam hal merekrut karyawan pasca pandemi. Strategi human resource dalam merekrut karyawan pasca pandemi pun menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Dari sisi organisasi, kebutuhan akan karyawan yang dinamis dan adaptif terhadap perubahan jelas ada. Bahkan, organisasi terkadang menginginkan karyawan menciptakan perubahan dibandingkan mengikuti perubahan. Di sisi lain, karyawan menginginkan adanya fasilitas untuk mendukung inovasi mereka dari organisasi.

Human resource sebagai penghubung antar organisasi dan karyawan atau pencari kerja, perlu menyusun strategi untuk mengatasi hal tersebut. Salah satu strategi human resource yang bisa dilaksanakan adalah learn to plan and plan to learn. 

Learn to plan merupakan strategi belajar membuat perencanaan. Human resource dapat menyusun perencanaan dengan mengamati fenomena yang terjadi. Contohnya dengan membuat terobosan baru untuk menjawab tantangan salam merekrut karyawan. Akan tetapi, strategi ini tidaklah cukup. Jika hanya menerapkan learn to plan, bukan tidak mungkin Anda akan menjadi korban dari perubahan itu.

Oleh karena itu, Anda perlu menerapkan strategi plan to learn. Plan to learn merupakan strategi dengan mengambil pembelajaran dari perencanaan yang sudah dibuat. Strategi ini akan membuat diri kita terus menyesuaikan diri dengan tantangan yang ada. Kepentingan untuk terus berkembang ini tentunya menjadi perhatian bersama, baik organisasi maupun karyawan.

Berikut diskusi terkait strategi human resource dalam merekrut karyawan pasca pandemi.

Baca juga: Learn Unlearn Relearn – Pengertian dan Penerapannya

 

Strategi Human Resource Merekrut Karyawan Pasca Pandemi

Artikel “8 Jobs Skills to succeed in a Post-Coronavirus World” yang ditulis oleh Bernard Marr untuk Forbes, menyampaikan ada delapan keterampilan utama yang harus dimiliki individu untuk bisa sukses pasca pandemi global. Empat di antaranya terkait dengan kemampuan kita untuk terus berkembang di zaman yang berubah dengan cepat. Adapun, keterampilan tersebut meliputi kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas, menjadi pembelajar terus menerus, kreativitas dan inovasi, serta penguasaan teknologi.

Hal ini juga menjadi pertimbangan para pencari kerja dalam memilih perusahaan untuk berkarier. Survei The Laws of Attraction yang dilakukan oleh JobStreet kepada 9.800 kandidat pencari kerja di Indonesia pada akhir tahun 2019 lalu, juga memberikan insight yang sangat menarik terkait dengan learn to plan & plan to learn.

Berangkat dari faktor-faktor tersebut, berikut strategi human resource, khususnya dalam hal merekrut karyawan, yang bisa Anda terapkan.

 

Learn to Plan

Dari hasil survei yang dilakukan, beberapa insight terkait dengan kemampuan learn to plan para kandidat pencari kerja, yaitu:

strategi human resource

Berdasarkan faktor-faktor di atas, strategi human resource yang dapat diterapkan saat merekrut karyawan meliputi hal berikut.

1. Human Resource Perlu Menginformasikan Gaya Kepemimpinan Organisasi

Gen X, Milennials, dan Gen Z, memiliki pandangan serupa bahwa seorang pemimpin harus bersikap profesional dalam menjalankan perannya. Hal ini mencakup kemampuan untuk bertindak sesuai dengan aturan dan kode etik yang berlaku dan bertanggung jawab.

Di sisi lain, dua gaya kepemimpinan yang juga dicari oleh para pencari kerja adalah pemimpin dengan arah yang jelas dan juga terstruktur, di mana kedua hal ini sangat erat kaitannya dengan kemampuan membuat perencanaan atau learn to plan.

Untuk itu, pada saat merekrut karyawan, ada baiknya HR menginformasikan hal tersebut. Hal ini dilakukan untuk menarik minat para pencari kerja. Di samping itu, HR juga perlu memastikan bahwa gaya kepemimpinan organisasi sudah ideal, khususnya dalam menghadapi perubahan pasca pandemi.

2. Kemampuan Pemimpin Memberikan Arahan Menjadi Pertimbangan Pencari Kerja

Ketiga generasi yang menjadi responden penelitian menilai bahwa seorang pemimpin harus mampu memberikan arahan kerja yang jelas kepada tim. Hal ini penting untuk dilakukan agar tim dapat memahami tugas dan tanggung jawab yang serta target yang harus dicapai. Di sisi lain, mereka juga membutuhkan sosok pemimpin yang terstruktur.

Apa artinya? Bagi para pencari kerja, seorang pemimpin haruslah memiliki kemampuan perencanaan kerja yang baik, dimana mereka mampu membuat target yang terukur dan melakukan pembagian tugas yang didasarkan pada kemampuan dari masing-masing anggota tim. Di sisi lain, hal ini juga harus didukung dengan adanya sistem dan prosedur kerja yang jelas dan tegas, sehingga proses kerja tim bisa berjalan secara efisien dan efektif.

 

Plan to Learn

Adapun terkait dengan kemampuan plan to learn dari para kandidat pencari kerja, didapatkan beberapa insight, yaitu sebagai berikut:

1. Pencari Kerja Mempertimbangkan Kesempatan Mengembangkan Diri

Jika dilihat dari sudut pandang gender, ada penemuan yang cukup menarik, dimana responden perempuan menempatkan gaji sebagai faktor utama dalam pencarian tempat kerja, sementara kesempatan pengembangan diri menempati peringkat kedua.

Sementara itu, responden laki-laki justru melihat kesempatan pengembangan diri sebagai faktor yang lebih penting dibandingkan dengan gaji atau kompensasi yang diberikan perusahaan. Kendati demikian, keduanya tetap menilai bahwa adanya kejelasan jenjang karier, pemberian program pelatihan internal maupun eksternal untuk meningkatkan kompetensi

2. Karyawan Senior Masih Membutuhkan Pengembangan Diri

Temuan lainnya yang juga menarik adalah adanya kebutuhan untuk mengembangkan diri bahkan pada level senior manajemen. Biasanya kebutuhan pengembangan diri identik dengan mereka yang baru memasuki dunia kerja, para fresh graduate ataupun entry level. Akan tetapi dari hasil survei yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa seyogyanya proses belajar dan pengembangan diri terjadi secara konsisten dan berkelanjutan. Hanya saja, ada perbedaan kebutuhan pada setiap jenjang pekerjaan.

3. Fokus Pengembangan Karier Berbeda di Setiap Posisi dan Level Pencari Kerja


cara merekrut karyawan

Seperti yang telah disebutkan pada poin sebelumnya, setiap posisi/jenjang pekerjaan masih membutuhkan adanya program pengembangan diri. Akan tetapi, fokus dan tujuan dari programnya berbeda. Pada posisi entry level/fresh graduate, pengembangan yang dibutuhkan lebih kepada pengembangan keterampilan teknikal, soft skill, dan juga proses mentoring, yang tujuannya membantu mereka dalam proses adaptasi di tempat kerja.

Hal ini dikarenakan mereka yang ada di posisi tersebut biasanya baru pertama kali masuk ke dalam dunia kerja, sehingga masih membutuhkan pendampingan yang intens untuk bisa menjalankan peran barunya secara optimal. Seiring dengan bertambahnya pengalaman dan adanya perubahan posisi/level pekerjaan, kebutuhan pengembangan diri pun mengalami pergeseran fokus dan tujuan. Pada posisi/level pekerjaan yang lebih tinggi, tujuan dari program pengembangan diri yang dibutuhkan adalah untuk mendapatkan promosi ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Program-program pelatihan yang akan diberikan oleh organisasi pun bukan sekadar untuk meningkatkan efisiensi kerja mereka. Namun, harus lebih spesifik menyasar pada pengembangan keterampilan dan keahlian yang bisa membantu mereka menduduki posisi yang lebih strategis dalam perusahaan.

4. Program Mentoring Lebih Dibutuhkan Gen Z dan Milenial

strategi human resourceHal lainnya yang juga menarik untuk dipelajari adalah penerapan program mentoring di perusahaan. Berdasarkan hasil survei The Laws of Attraction yang telah dilakukan tiga generasi berbeda, yaitu Gen Z, Millennials, dan, Gen X, dapat disimpulkan bahwa program pendampingan dan mentor lebih banyak dibutuhkan oleh para pencari kerja di generasi Z dan Milennials dibandingkan mereka yang termasuk di dalam generasi X.

Adapun hal ini dikarenakan para pencari kerja di dua generasi tersebut (Gen Z dan Milennials) masih berada dalam tahap awal karier mereka, sehingga lebih banyak membutuhkan pendampingan terkait dengan proses kerja yang berlangsung dalam perusahaan dan juga cara untuk menjadi profesional yang berkualitas. Dengan demikian, mereka dapat menjalankan perannya secara optimal dan memberikan dampak bagi perusahaan.

Oleh karena itu, keberadan sosok inspiratif di tempat kerja menjadi daya tarik bagi para pencari kerja Gen X dan Millenials untuk dapat bergabung dalam suatu organisasi.

 

Key Takeaway – Strategi Human Resource

Dengan memahami insights terkait learn to plan and plan to learn ini, kita bisa meningkatkan sustainability organisasi dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Lakukan penajaman dalam proses seleksi karyawan, untuk bisa menilai kemampuannya dalam membuat perencanaan, dan juga kemampuan belajarnya sehingga terus berkembang. Namun di sisi lainnya, bersiaplah untuk ditanya oleh para pencari kerja hal-hal yang terkait dengan pengembangan diri mereka, karena mereka juga memasukkan rencana untuk belajar sebagai bagian dari perjalanan karir mereka.

Informasi tambahan terkait dengan hasil survei The Laws of Attraction, yang membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan para pencari kerja dalam menentukan tempat berkarier dapat dilihat pada situs website JobStreet Indonesia.

Ditulis oleh Alexander Sriewijono & Maria Tarisa
untuk JobStreet Indonesia edisi bulan Juli 2020

This website uses cookies and asks your personal data to enhance your browsing experience. We are committed to protecting your privacy and ensuring your data is handled in compliance with the General Data Protection Regulation (GDPR).

Bounce Forward
To Evolve

Daily Meaning People Development Programs 2024