Managing Employee Well-Being During Working from Home

Sudah kurang lebih tujuh bulan banyak organisasi menerapkan sistem kerja dari rumah atau working from home. Pada awalnya, kesulitan yang terjadi adalah shifting dari proses kerja tatap muka di kantor menuju remote working, di mana proses interaksi terjadi secara virtual. Saat itu yang masih menjadi fokus adalah bagaimana proses kolaborasi tetap bisa berjalan dengan optimal dan tidak menggangu berjalannya proses bisnis.

Saat karyawan sudah mulai terbiasa dengan proses kerja working from home dan proses interaksi virtual yang ada, muncul permasalahan baru yang menjadi keresahan para leader, yaitu kelelahan dan well-being dari pegawai. Pasalnya, working from home terasa jauh lebih melelahkan dan menguras energi. Selain karena proses komunikasi virtual yang dirasa cukup menantang, tidak adanya batasan yang jelas antara waktu kerja dan kehidupan pribadi menjadi salah satu keluhan yang banyak disampaikan oleh para pekerja. Adanya kebijakan working from home terasa seperti pekerja harus siap sedia 24/7 untuk mengurusi tugas kantor, seakan-akan mereka tidak lagi punya waktu untuk urusan pribadi ataupun keluarga.

grafik-1-1-2

Menariknya, jika dilihat dari hasil survei The Laws of Attractions yang dilakukan oleh JobStreet pada 9.800 kandidat pelamar kerja di Indonesia pada akhir Desember tahun lalu, adanya keseimbangan waktu kerja dan pribadi menjadi salah satu dari lima faktor utama yang paling mendorong para pencari kerja antar generasi untuk menentukan tempat berkarier. Hal ini menunjukkan bahwa para pencari kerja mementingkan adanya work-life balance dalam bekerja, di mana waktu mereka tidak dihabiskan hanya di depan komputer saja, tetapi di sisi lain juga masih bisa menikmati hidup.grafik-1-2-2

Jika dipelajari lebih lanjut, terdapat 5 hal yang paling menjadi fokus para pencari kerja antar generasi terkait dengan keseimbangan waktu kerja dan pribadi atau work-life balance, yaitu (1) kompensasi lembur atau kerja di hari libur; (2)fleksibitas waktu atau izin untuk perayaan agama dan kebudayaan; (3)tidak ada pekerjaan selama akhir pekan, hari istirahat, dan libur nasional; (4)waktu kerja 5 hari seminggu; dan (5)jam kerja yang tetap.

Hasil survei yang dilakukan sebelum pandemi tersebut bahkan menjadi lebih perlu diperhatikan dalam situasi seperti saat ini, di mana organisasi berusaha untuk segera melewati masa penyesuaian akibat perubahan yang terjadi, dan berupaya memulihkan kembali kinerja organisasinya. Tentunya ini bukan hal yang mudah, dan keterlibatan seluruh karyawan menjadi faktor penting dalam hal ini.

Oleh sebab itu, coba kita pahami dulu perihal work-life balance yang terkait dengan pemaparan di atas, dalam situasi working from home yang masih menjadi tantangan saat ini.

 

  1. Para pekerja membutuhkan adanya kejelasan sistem dan aturan mengenai jam kerja selama Permasalahan yang seringkali terjadi selama proses kerja dari rumah adalah tidak adanya batasan waktu kerja, di mana proses kolaborasi ataupun meeting seringkali dilakukan bahkan saat jam kerja sudah berakhir. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan burn out dan mempengaruhi well-being dari karyawan.
  2. Kejelasan sistem lembur, termasuk di dalamnya terkait dengan kompensasi yang akan diberikan kepada karyawan, apakah berupa penambahan waktu cuti ataupun adanya uang Adanya aturan yang jelas terkait dengan lembur selain bisa memberikan kepuasan kepada karyawan juga dapat membuat karyawan merasa diperlakukan dengan adil oleh perusahaan.
  3. Work-load management untuk melihat tingkat kelelahan dari para karyawan. Hal ini akan membantu leader untuk bisa mengatur distribusi dan delegasi tugas kepada anggota tim secara lebih merata, sehingga produktivitas tim tetap terjaga dan tidak mempengaruhi well-being karyawan.

 

Berdasarkan pemaparan tersebut, apa yang bisa dilakukan oleh HR untuk menjaga well- being employee selama masa working from home? Berikut adalah beberapa tips praktis yang bisa dilakukan:

 

  1. Tim HR harus mampu membuat mekanisme dan prosedur kerja yang jelas selama masa WFH berlangsung. Aturan-aturan perusahaan yang diterapkan selama masa WFO tentunya masih harus ditaati oleh seluruh Akan tetapi, perlu ada regulasi tambahan yang mengatur tentang prosedur kerja selama masa WFH, termasuk di dalamnya terkait dengan jam kerja dan juga lembur. Dengan adanya aturan baku yang dipahami bersama oleh seluruh karyawan, maka dapat dijadikan acuan dalam proses kolaborasi tim, sehingga para karyawan pun tetap bisa memiliki waktu untuk urusan pribadi maupun keluarga.
  2. Survei berkala perlu dilakukan untuk memantau kondisi well-being dari para karyawan. Dengan adanya survei ini, HR bisa mendapatkan gambaran terkait dengan kondisi para karyawan secara keseluruhan, sehingga dapat mengantisipasi terjadinya kelelahan dan burn-out yang dapat mempengaruhi produktivitas tim dan pencapaian bisnis perusahaan.
  3. Bekerjasama dengan para leader melakukan work-load asessment kepada para karyawan untuk mendapatkan gambaran mengenai distribusi pekerjaan yang terjadi dalam tim, apakah sudah merata atau masih bisa diperbaiki lagi. Di sisi lain, ini juga bisa memberikan gambaran terkait dengan tingkat kelelahan karyawan. Dikombinasikan dengan survei well-being, ini bisa menjadi data yang powerful untuk mengevaluasi regulasi WFH yang telah ditetapkan. Dengan demikian, penyesuaian pun dapat dilakukan guna mencegah penurunan produktvitas tim.
  4. Menjalankan program pelatihan melalui virtual workshop untuk memperkuat kematangan dan ketangguhan para people leader untuk mampu mempimpin dalam situasi yang tidak mudah ini untuk bersama-sama menjaga tingkat well- being timnya dalam mencapai target kerja yang ada. Untuk para staf juga dapat diberikan pelatihan yang dapat membuat mereka take ownership terhadap apa yang mereka bisa kontrol dan optimalkan untuk bersama-sama menghadapi tantangan yang ada.
  5. Terkait dengan proses recruitment, adanya kejelasan sistem dan aturan selama masa WFH ini perlu dikomunikasikan kepada para pelamar kerja dalam proses wawancara ataupun Hal ini bisa memberikan gambaran kepada para pencari kerja tentang situasi WFH yang nantinya akan mereka hadapi, sehingga dapat membantu mereka dalam mengambil keputusan apakah akan bergabung dengan perusahaan atau tidak.

 

Well-being karyawan memang bukan tugas HR semata, tetapi menjadi tanggung jawab perusahaan secara menyeluruh. Akan tetapi, HR merupakan pionir yang memiliki peranan kunci untuk dapat menciptakan lingkungan dan situasi kerja yang kondusif bagi para karyawan. Oleh karena itu, hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama di masa pandemi ini, dimana isu kesehatan mental pun menjadi salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi produktivitas perusahaan.
Untuk lebih jauh memahami insights mengenai hal-hal yang diuraikan dalam artikel ini, Anda dapat mempelajari secara lebih detail data-data survei The Laws of Attraction pada situs web JobStreet Indonesia. Dan untuk referensi program-program virtual workshop untuk para people leader dan tim, terkait kemampuan mengelola well-being selama masa pandemi ini, dapat dilihat pada situs web Daily Meaning.

 

 

Ditulis oleh Alexander Sriewijono & Maria Tarisa
untuk JobStreet Indonesia