Mengantisipasi Change Fatigue dalam Organisasi

Situasi pandemi yang saat ini terjadi di Indonesia, menuntut banyak organisasi untuk melakukan perubahan di berbagai aspek bisnis organisasi. Misalnya saja perubahan sistem kerja, dari tatap muka secara langsung menjadi kolaborasi virtual yang dilakukan melalui berbagai platform digital. Ataupun percepatan digitalisasi perusahaan yang mendesak para karyawan untuk dengan cepat menguasai berbagai teknologi baru. Tentunya perubahan-perubahan tersebut perlu dilakukan oleh organisasi untuk dapat tetap bertahan di tengah situasi pandemi. Akan tetapi, perubahan yang terjadi secara cepat dan masif, selain bisa memberikan dampak positif pada perkembangan bisnis perusahaan, di sisi lain juga dapat memunculkan dampak negatif bagi karyawan, di mana mereka merasa lelah dan tidak lagi termotivasi untuk melakukan perubahan tersebut. Hal ini dalam dunia human resource, dikenal dengan istilah change fatigue, yaitu kelelahan yang dialami oleh karyawan karena banyaknya perubahan yang terjadi di dalam organisasi.

Hal-hal apa saja yang dapat dijadikan indikator adanya change fatigue dalam organisasi?

  1. Menurunnya tingkat engagement karyawan, yang seringkali diikuti dengan munculnya sikap apatis.
  2. Meningkatnya jumlah karyawan yang mengalami stres kerja ataupun burn out, dikarenakan load kerja yang meningkat dan juga banyaknya tanggung jawab baru yang harus mereka jalankan.
  3. Semakin banyaknya keluhan yang disampaikan oleh karyawan terkait dengan pekerjaan mereka.
  4. Munculnya berbagai respon negatif dari karyawan terkait dengan perubahan yang dilakukan organisasi, misalnya saja resistensi, atau pun sikap skeptis terhadap kesuksesan strategi baru yang disampaikan oleh pemimpin.

 

Adapun ketidakmampuan organisasi untuk mengantisipasi munculnya change fatigue pada karyawan dapat mempengaruhi produktivitas dan juga perkembangan bisnis di masa yang akan datang. Oleh karena itu, perlu dicari strategi yang tepat untuk dapat mengatasi permasalahan ini.

Berdasarkan survei The Laws of Attraction yang dilakukan oleh JobStreet pada 9.800 pencari kerja di akhir tahun 2019 yang lalu, selain sosok pemimpin, kolega atau teman kerja, dan juga budaya perusahaan, menjadi dua faktor penting yang juga mempengaruhi keputusan para pencari kerja untuk bergabung dalam suatu organisasi. Di sisi lain, budaya kerja yang positif, serta kolega yang suportif, juga menjadi elemen penting bagi organisasi untuk terhindar dari dampak negatif yang mungkin dimunculkan oleh change fatigue. Mari kita pelajari lebih lanjut apa saja insights yang bisa dipelajari dari hasil survei tersebut.

grafik-1-1-budaya-perusahaan-seluruh-responden

Jika dikaitkan dengan situasi perubahan yang terjadi di organisasi, maka beberapa insights yang bisa didapatkan dari hasil survei tersebut adalah:

  1. Budaya kerja yang profesional menjadi hal yang mendasar, di mana setiap karyawan memahami betul apa yang menjadi peran dan tanggung jawabnya, serta bisa bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Akan tetapi, budaya kerja yang profesional saja tidak cukup dalam situasi perubahan. Organisasi juga perlu menciptakan budaya kerja yang kolaboratif, di mana seluruh pihak terlibat aktif dalam mencapai tujuan perubahan. Adanya kesamaan visi dan misi, serta shared goals yang dipahami oleh seluruh pihak menjadi salah satu cara untuk bisa menciptakan budaya kerja yang kolaboratif. Dengan demikian, karyawan bisa melihat bahwa perubahan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab mereka semata, tetapi juga para pemimpin dan mereka yang duduk di Manajemen.
  2. Dalam situasi perubahan, perlu adanya kejelasan arah dan tujuan dari organisasi. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah membuat prioritas perubahan yang akan diterapkan di organisasi. Adanya prioritas ini akan membuat proses perubahan menjadi lebih terarah dan terstruktur. Di sisi lain, ini juga dapat mengantisipasi munculnya change fatigue dikarenakan kurang fokusnya strategi perubahan yang diterapkan oleh organisasi.
  3. Komunikasi yang transparan dalam organisasi dapat mengantisipasi munculnya change fatigue pada karyawan. Adapun hal yang perlu menjadi fokus saat mengkomunikasikan insiatif perubahan bukanlah sekadar apa yang perlu dilakukan, tetapi mengapa perubahan tersebut harus dilakukan. Hal ini bisa membantu karyawan untuk memahami sense of urgency and importance dari perubahan yang dilakukan dan bisa lebih memotivasi mereka untuk mau melakukan perubahan tersebut.grafik-1-2-kolega-teman-kerja-seluruh-responden

    Berikut adalah beberapa insight yang bisa dipelajari dari hasil survei tersebut, terkait dengan relasi antar kolega kerja dalam situasi perubahan:

    1. Sejalan dengan hasil survei terkait budaya kerja, dalam situasi perubahan, rekan kerja yang mampu menunjukkan sikap suportif terhadap tim dan juga mau terlibat aktif dalam proses kerja tim, dapat membuat proses implementasi perubahan di organisasi menjadi lebih efisien dan efektif. Di sisi lain, rekan kerja yang berorientasi kolaboratif pun dapat membantu terciptanya suasana kerja yang lebih positif dan menyenangkan, sehingga dapat membantu menjaga motivasi karyawan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari.
    2. Salah satu hal yang perlu diantisipasi agar tidak terjadi change fatigue adalah menciptakan suasana kerja yang kondusif bagi seluruh karyawan. Oleh sebab itu, keberadaan kolega atau rekan kerja yang memiliki pemikiran dan sikap positif dalam menghadapi perubahan menjadi salah satu faktor penting untuk dapat menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman bagi seluruh karyawan. Hal ini dikarenakan mereka dapat memberikan pengaruh yang baik bagi karyawan lainnya, sehingga bersama-sama seluruh organisasi pun bisa bergerak menuju perubahan yang ditargetkan.
    3. Kepedulian dan keinginan untuk saling membantu antar anggota tim menjadi salah faktor yang juga dapat mendukung efisiensi dari implementasi perubahan. Rekan kerja yang tidak hanya mementingkan tugasnya, tetapi juga mau membantu anggota tim lainnya untuk bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik, dapat membuat beban kerja tim terasa lebih ringan dan juga membuat anggota tim merasa mendapatkan dukungan untuk bisa menghadapi situasi yang ada.

     

    Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa adanya kohevisitias tim menjadi salah satu faktor penting yang bisa membantu organisasi untuk mengantisipasi munculnya change fatigue. Proses kolaborasi yang positif, tidak hanya dengan rekan satu tim, tetapi juga dengan atasan, dan rekan antar divisi, menjadi kunci organisasi untuk dapat mencapai target perubahan yang sudah ditentukan. Di sisi lain, organisasi pun perlu untuk menentukan prioritas dan strategi perubahan yang lebih terstruktur, sebagai pegangan bersama. Untuk dapat menunjang itu semua, selama masa pandemi berlangsung, Daily Meaning secara intensif bekerjasama dengan banyak organisasi untuk mengantisipasi dan

    mengatasi change fatigue ini. Peningkatan kualitas kepemimpinan people manager menjadi kunci dan HR juga memiliki peranan yang penting untuk bisa menciptakan lingkungan kerja yang dapat mendukung efisiensi dan efektivitas proses kolaborasi tim.

    Secara lebih terperinci, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

    1. Mempersiapkan para pemimpin agar bisa menjalankan perannya sebagai people manager dengan sebaik mungkin, terutama terkait dengan kesiapan mereka dalam memimpin di situasi perubahan.
    2. Menjadi business partner bagi para pemimpin dan juga manajemen, dengan memberikan masukan-masukan terkait dengan hal-hal yang perlu dilakukan untuk bisa mengoptimalkan implementasi perubahan di organisasi, terutama yang terkait dengan talent management dan juga budaya kerja perusahaan.
    3. Mengadakan program-program yang dapat membantu karyawan untuk menjaga well-being mereka, sehingga dapat menhindari stres kerja dan burn out, yang menjadi karakteristik dari change fatigue.
    4. Memberikan pelatihan kepada karyawan yang dapat membantu mereka untuk dapat menciptakan proses kolaborasi yang lebih positif, misalnya saja high impact communication, becoming the +1 professional in collaboration, enhancing trust in virtual collaboration.

     

    Untuk lebih memahami insights mengenai hal-hal yang dipaparkan dalam artikel ini, Anda dapat mempelajari secara lebih detail data-data survei The Laws of Attraction pada situs web JobStreet Indonesia. Sementara itu, untuk referensi terkait program-program virtual workshop yang dapat membantu meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses kolaborasi tim, dapat dilihat pada situs web Daily Meaning.

     

     

    Ditulis oleh Alexander Sriewijono & Maria Tarisa
    untuk JobStreet Indonesia

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top