Memahami Aspek “Fokus & Fleksibel”

Awal tahun strategi telah ditetapkan dan rencana boleh dibuat, namun pandemi global yang terjadi bisa mengubahnya bahkan secara ekstrim. Ada industri yang terkena dampaknya langsung seperti airlines dan hospitality industry, ada juga yang terpengaruh hanya dari cara kerjanya yang menjadi work from home. Tapi yang jelas, hampir semua organisasi berusaha menyesuaikan diri dan sebisa mungkin memanfaatkan peluang yang ada.

Beberapa penyesuaian yang bisa dicontohkan misalkan beberapa bank semakin mengintensifkan layanan daringnya dan mengalihkan fungsi beberapa bagian menjadi call center, mengingat banyaknya telpon yang masuk dari para nasabahnya. Ada juga airlines yang menjadikan para crew sebagai care ambassador yang membantu memberikan kenyamanan bagi pasien-pasien di rumah sakit. Atau ada hotel yang di satu sisi tidak ingin memberhentikan karyawannya, tetapi di sisi lainnya tidak ada pemasukan sama sekali dari tamu hotel. Jalan keluarnya adalah dengan mengubah halaman yang ada di wilayah hotelnya menjadi kebun-kebun sayur, yang digarap oleh para karyawannya, dan hasil penjualannya untuk pembayaran gaji karyawan.

Dengan kondisi tersebut, apa yang diputuskan di awal tahun, mau tidak mau juga harus diubah berdasarkan situasi yang ada. Bahkan saat ada satu keputusan organisasi yang dibuat selama proses mencapai “new normal“, periode berlakunya relatif singkat, yaitu keputusan dan arahan untuk 1 bulan hingga 3 bulan. Alasannya sederhana, yaitu karena ketidak-pastian yang ada masih begitu besarnya, dan belum sepenuhnya bisa memastikan apa yang terjadi pasca pandemi global. Walaupun strategi dan arahan relatif untuk periode yang lebih singkat, namun sangat diperlukan agar karyawan tetap bisa fokus mencapai sasaran bersama.

Dalam situasi seperti ini, karyawan juga tidak lagi bisa secara kaku mempertahankan cara kerja yang lama, atau bahkan hanya mau mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan job descriptionnya. Kalau hanya melihat job title sebagai cabin crew contohnya, tidak ada dalam perjanjian kerja dan uraian tugasnya untuk menjadi care ambassador di rumah sakit. Namun, dengan perubahan situasi dan kondisi yang terjadi, perlu adanya fleksibilitas untuk bisa bersama-sama mengatasi tantangan yang dihadapi.

Aspek “fokus & fleksibel” ini juga perlu dipahami saat melakukan proses hiring dalam situasi pasca pandemi. Hal-hal apa yang harus dengan jelas disampaikan sehingga calon karyawan juga bisa lebih fokus nantinya, dan hal-hal apa yang juga perlu dijelaskan terkait dengan fleksibilitas yang mungkin terjadi. Kejelasan ini bisa lebih memberikan manfaat, baik untuk para pelamar kerja maupun bagi organisasi yang dilamar.

Sejalan dengan hal itu, dari survei yang dilakukan oleh JobStreet kepada 9.800 kandidat pencari kerja di Indonesia pada akhir tahun 2019, ada insights menarik yang bisa diuraikan disini. Terutama mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi para pencari kerja dalam menentukan pilihan tempat berkarier dan kaitannya dengan aspek fokus & fleksibel dalam pekerjaan.

 

ASPEK FOKUS

artikel_03-grafik_1-1_perbandingan_gaya_kepemimpinan_yang_dicari_di_5_industri_terbesar_di_indonesia1

 

Pemimpin ideal adalah pemimpin yang profesional dan mampu memberikan arahan yang jelas kepada tim

 

Dari data lima industri yang dibandingkan, yaitu perusahaan berbasis teknologi (misalnya e-commerce dan fintech), asuransi dan perbankan, gas/minyak bumi, pertambangan, dan juga otomotif, terdapat kesamaan yang dapat digarisbawahi terkait dengan karakter pemimpin ideal yang dimiliki oleh para kandidat pencari kerja. Di mana profesionalisme seorang pemimpin dan kemampuannya dalam mengkomunikasikan arahan kerja yang jelas kepada anggota tim, menjadi dua faktor kritikal yang paling mempengaruhi para pencari kerja untuk bergabung dalam organisasi tersebut.

Jika ditelaah lebih lanjut, hal ini menunjukkan bahwa adanya kejelasan strategi kerja, serta visi dan misi yang ingin dicapai, dibutuhkan para pencari kerja untuk bisa mendapatkan gambaran yang menyeluruh terkait pekerjaan yang ditawarkan. Di sisi lain, adanya informasi tersebut juga dapat membantu para pencari kerja dalam mengidentifikasi kontribusi ataupun dampak yang mereka bisa berikan dalam proses kerja tersebut. Oleh karena itu, menjadi penting bagi para rekruiter ataupun user untuk dapat memberikan informasi yang menyeluruh terkait dengan posisi yang dilamar, sehingga dapat lebih menarik minat para pencari kerja.

Pemimpin harus bisa membuat perencanan kerja yang matang dan terstruktur

 

Selain kedua faktor yang telah disebutkan dalam poin sebelumnya, para pencari kerja juga melihat adanya kebutuhan akan sosok pemimpin yang mampu membuat perencanaan kerja yang matang, jelas, dan terstruktur dengan baik. Hal ini dianggap penting dalam proses kerjasama tim, untuk dapat memastikan efisiensi dan efektivitas kolaborasi yang terjadi. Adanya sistem kerja yang terorganisir juga akan memudahkan proses manajemen risiko dan pemecahan masalah kerja di dalam tim. Sehingga, sasaran yang sebelumnya sudah ditetapkan pun dapat tercapai. Kebutuhan ini terutama muncul pada industri perbankan dan asuransi, serta pertambangan. Sementara itu, untuk ketiga indusrti lainnya, yaitu perusahaan berbasi teknologi, gas/minyak bumi, dan otomotif, gaya kepemimpinan yang terstruktur tetap dibutuhkan oleh organisasi, tetapi transparansi dari pemimpin dan manajemen menjadi faktor yang lebih krusial bagi para pencari kerja di bidang tersebut.

 

ASPEK FLEKSIBEL

artikel_03-grafik_1-2_budaya_inovatifkreatif1

 

• Budaya inovatif/kreatif sangat dibutuhkan dalam industri berbasis teknologi dan otomotif

 

Bagi para pencari kerja di perusahaan berbasis teknologi dan otomotif, budaya kerja yang inovatif dan kreatif lebih diminati dibandingkan dengan budaya kerja yang cenderung kaku. Apabila dilihat dari karakteristik industrinya, adanya inovasi yang kreatif menjadi senjata utama bagi perusahaan-perusahaan berbasis teknologi, seperti e-commerce dan fintech, untuk dapat bersaing dengan para kompetitor. Hal ini juga diperkuat dengan adanya tuntutan untuk selalu mengikuti perubahan trend di pasar yang terjadi dengan sangat cepat. Fleksibiitas pun menjadi salah satu karakeristik utama yang dicari oleh para rekruiter di industri berbasis teknologi tersebut. Senada dengan hasil tersebut, adanya inovasi juga menjadi penting bagi mereka yang bekerja di industri otomotif. Untuk bisa mempertahankan para konsumennya, inovasi produk secara berkala menjadi hal yang penting untuk dilakukan agar dapat tetap relevan dan menjawab kebutuhan.

 

• Industri pertambangan, gas dan minyak bumi, serta asuransi dan perbankan lebih berfokus pada standar prosedur

 

Berbeda dengan kedua industri yang telah dibahas pada poin sebelumnya, industri gas/minyak bumi, pertambangan, serta asuransi dan perbankan, budaya kerja yang inovatif tidak menjadi faktor penentu bagi para pencari kerja ketika memutuskan untuk bergabung dengan suatu organisasi. Di sisi lain ketiga industri tersebut pun cenderung melihat budaya inovatif/kreatif bukan sebagai fokus utama dalam menjalankan bisnis. ini dikarenakan karakteristik pekerjaan ketiga industri tersebut yang dirasa sudah lebih ajeg. Di mana yang menjadi target adalah adanya kesesuaian prosedur kerja dalam memberikan layanan yang optimal kepada pelanggan.

Insights yang terkait dengan masalah fokus dan fleksibel ini tidak hanya dapat meningkatkan daya tarik organisasi di mata pencari kerja, namun juga dapat membuat mereka bertahan di organisasi dan memberikan kontribusi yang optimal. Oleh sebab itu, proses hiring memang tidak berdiri sendiri atau terlepas dari HR practices lainnya. Kejelasan pada apa yang dijanjikan, hal-hal yang akan menjadi komitmen, dan tanggung jawab kedua belah pihak, menjadi bagian penting dari perjalanan berkarya bersama.
Untuk lebih memahami terkait dengan perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan para pencari kerja di berbagai industri, dalam menentukan tempat berkarier, Anda dapat mempelajari secara lebih detail tentang hasil survei The Laws of Attraction pada situs web JobStreet Indonesia.

 

Ditulis oleh Alexander Sriewijono & Maria Tarisa
untuk JobStreet Indonesia