Say Hello to Gig Economy: The Future Work After Pandemic

Dunia kerja di era 4.0 tidak hanya ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan juga transformasi digital di berbagai perusahaan, tetapi juga perubahan dalam sistem kerja itu sendiri. Keberadaan internet memudahkan para pekerja untuk melakukan aktivitasnya di mana saja, tanpa harus berada secara fisik di kantor. Di sisi lain, hal ini juga memungkinkan adanya proses kolaborasi antar negara dan benua yang dapat dilakukan secara virtual, tanpa harus berada di suatu tempat yang sama. Kemudahan ini pun membuka kesempatan dan peluang kerja yang lebih luas bagi para pencari kerja di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Dampak yang paling jelas terasa adalah berkembang pesatnya gig economy dalam dunia kerja. Gig economy dapat diartikan sebagai suatu kondisi perekonomian di mana perusahaan lebih memilih untuk mempekerjakan para pekerja lepasan atau freelance, serta pekerja kontrak, dibandingkan dengan pekerja penuh waktu.

Ketika pandemi COVID-19 terjadi, banyak perusahaan yang kemudian harus mengencangkan ikat pinggang mereka, agar dapat mempertahankan bisnisnya. Namun, banyak juga yang terpaksa harus merumahkan para karyawan mereka, karena roda bisnis tidak berjalan. Bagi perusahaan yang masih bisa bertahan, strategi bisnis di tahun 2021 pun disusun dengan sangat rapih dan strategis untuk dapat tetap mempertahankan bisnis. Salah satu hal yang menjadi perhatian para pemimpin di berbagai perusahaan adalah rekruitmen karyawan. Ada beberapa perusahaan yang memilih untuk menghentikan sementara waktu proses pencarian pegawai, tapi banyak juga yang masih membuka peluang bagi para pencari kerja untuk dapat bergabung dalam perusahaan. Di sisi lain, banyak juga pemimpin yang mulai mempertimbangkan untuk mempekerjakan pekerja paruh waktu ataupun karyawan kontrak, guna memenuhi kebutuhan perusahaan

Apa saja yang menjadi keuntungan mempekerjakan pekerja paruh waktu?

 

1. Cost-efficiency

Mempekerjakan pekerja paruh waktu membutuhkan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan karyawan tetap. Hal ini dikarenakan perusahaan tidak memiliki kewajiban untuk memberikan benefit tambahan, seperti asuransi kesehatan, bonus, atau pun THR kepada para pekerja paruh waktu.

2. Time-Efficiency

Salah satu keuntungan mempekerjakan pekerja paruh waktu adalah perusahaan tidak perlu melakukan proses induction atau pun on the job training yang biasanya diberikan kepada karyawan baru sebelum mereka mulai bekerja. Yang perlu diberikan kepada para pekerja paruh waktu adalah kejelasan tugas dan tanggung jawab, serta output yang diharapkan. Tanpa adanya proses pelatihan, mereka sudah dapat langsung mengerjakan tugas-tugasnya.

3. Sesuai dengan kebutuhan perusahaan

Perusahaan dapat lebih menyesuaikan perekruitan pekerja paruh waktu dengan kebutuhan dan juga proyek yang sedang berlangsung. Dengan demikian alokasi beban kerja dan sumber daya yang ada pun bisa lebih terjaga.

4. Bisa mempekerjakan expert yang berpengalaman

Untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kemampuan tertentu, perusahaan bisa merekruit pekerja paruh waktu yang expert di bidang tersebut dengan pengalaman yang juga mumpuni. Hal ini akan lebih memudahkan perusahaan jika dibandingkan harus merekruit karyawan tetap untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, terutama jika pekerjaan itu sifatnya sementara.

 

Adapun pada akhir tahun 2019 yang lalu, JobStreet Indonesia melakukan survei kepada 9.800 pencari kerja di Indonesia dari berbagai elemen. Salah satu elemen yang menjadi responden survei The Laws of Attraction adalah para pekerja paruh waktu dan juga karyawan kontrak. Berdasarkan hasil survei tersebut, ada beberapa insights yang dapat dipelajari untuk dapat lebih memahami karakteristik dari para pekerja paruh waktu. Mari kita simak pembahasannya!

grafik-1-1-faktor-yang-menarik-minat-para-freelancer

Berikut adalah beberapa insight yang bisa disimpulkan dari data survei yang dilakukan JobStreet Indonesia terkait dengan pekerja kontrak dan juga pekerja paruh waktu:

  1. Terkait dengan peluang pengembangan, yang diharapkan bukanlah adanya training formal untuk peningkatan skill ataupun kemampuan, tetapi kesempatan untuk bisa menambah pengetahuan dan pengalaman mereka. Proyek yang menantang ataupun memiliki kompleksitas yang tinggi akan lebih menarik bagi para pekerja paruh waktu. Oleh karena itu, saat proses rekruitmen, HR atau pun user perlu menggarisbawahi apa saja keuntungan yang bisa mereka dapatkan jika bergabung dengan proyek tersebut, bukan hanya dari segi finasial, tetapi juga yang terkait dengan pengembangan diri mereka sebagai profesional.
  2. Gaji atau kompensasi tentunya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan para pencari kerja untuk bergabung dalam suatu perusahaan. Ada beberapa sistem pemberian kompensasi yang bisa dipilih oleh perusahaan, yaitu upah berdasarkan satuan waktu, satuan hasil, atau pun upah borongan. Tidak ada preferensi khusus dari para pekerja paruh waktu terkait dengan sistem upah yang digunakan oleh perusahaan, selama hal tersebut terasa adil dengan pekerjaan yang harus dikerjakan.
  3. Hal lainnya yang menjadi perhatian para pekerja paruh waktu adalah reputasi perusahaan, terutama terkait dengan reputasi keselamatan dan kesehatan kerja yang diterapkan oleh perusahaan, latar belakang perusahaan, dan sejauh mana perusahaan mendukung adanya keberagaman dalam proses kerja yang terjadi. Selain itu, beberapa pekerja paruh waktu juga mempertimbangkan terkait dengan tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan, terutama terkait dengan pelestarian linkungan dan dampak yang diberikan kepada masyarakat.
  4. Faktor yang juga menjadi pertimbangan pekerja paruh waktu untuk menentukan tempat bekerja adalah keseimbangan antara waktu kerja dan pribadi. Banyak dari para pekerja paruh waktu mengerjakan proyek untuk lebih dari satu perusahaan. Oleh sebab itu, kejelasan waktu kerja dan timeline menjadi salah satu hal yang penting untuk mereka. Pada saat proses rekruitmen, baik HR maupun user perlu menjelaskan sistem atau pun mekanisme kerja yang ada, misalnya saja apakah mereka perlu hadir secara fisik atau mereka bebas mengatur waktu kerjanya sendiri asalkan dapat memenuhi deadline yang telah ditetapkan. Kejelasan aturan ini akan menguntungkan kedua belah pihak dan mengantisipasi munculnya perselisihan di masa yang akan datang.

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa kejelasan terkait dengan pekerjaan yang harus dilakukan, sistem kerja, dan aturan kerja, merupakan tiga hal yang perlu menjadi perhatian HR sebelum melakukan proses rekruitmen. Ada pun beberapa langkah yang dapat ditempuh HR untuk bisa mendapatkan kandidat pekerja paruh waktu yang terbaik adalah:

  • Berdiskusi dengan user terkait dengan kebutuhan yang mereka miliki, terutama mengenai cakupan tugas dan tanggung jawab, karakteristik atau skill yang harus dimiliki, output yang diharapkan, dan juga timeline kerja.
  • Melakukan benchmark untuk penyusunan kontrak kerja dan juga sistem upah yang akan digunakan, agar bisa menarik perhatian para kandidat.
  • Menyusun informasi rekruitmen yang menarik, dengan tidak hanya memaparkan tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai benefit dan dampak yang bisa mereka dapatkan.

Dengan melakukan persiapan-persiapan tersebut, maka perusahaan pun bisa mendapatkan talenta-talenta yang sesuai dengan kebutuhan, sehingga dapat membantu dalam proses pengembangan bisnis. Untuk mempelajari lebih lanjut terkait dengan karakteristik para pekerja paruh waktu, Anda bisa mempelajari secara lebih detail data-data survei The Laws of Attraction pada situs web JobStreet Indonesia.

 

Ditulis oleh Alexander Sriewijono & Maria Tarisa
untuk JobStreet Indonesia