Being Aware & Wary, Cara Berpikir Para Pencari Kerja yang Perlu Dipahami dalam Situasi Penuh Ketidakpastian

Pandemi global memang membawa dampak yang masif bagi banyak pihak, mulai dari pelaku bisnis, organisasi, hingga para karyawan. Keputusan yang sulit mau tidak mau diambil. Mulai dari pemotongan gaji, penyesuaian fasilitas, hingga pemutusan hubungan kerja.

Jumlah perusahaan yang berhenti beroperasi hingga kemudian tutup juga tidaklah sedikit. Dan tentunya jumlah orang yang kehilangan pekerjaan juga terus bertambah. Situasi ini kita harapkan dapat segera teratasi dan membaik untuk kepentingan bersama. Kita harus optimis bahwa organisasi bisa segera produktif kembali, dengan tentunya juga memperkuat keberadaan karyawannya, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, walau tidak dipungkiri efisiensi proses dan otomasi juga menjadi prioritasnya.

Saat pandemi berakhir, perubahan terjadi tidak hanya pada cara dan kemampuan kerja yang diistilahkan menjadi “new normal”, tetapi juga dalam cara berpikir. Faktor ketidakpastian menjadi satu hal yang disadari atau tidak, akan mewarnai cara mempertimbangkan banyak hal, termasuk proses pengambilan keputusan.

Sebelum terjadi pandemi global, para pencari kerja bisa jadi hanya melihat apakah perusahaannya memiliki reputasi yang baik? Ataukah cukup bergengsi? Akan tetapi, sesudah terjadi pandemi global dengan segala dampaknya, orang mulai berpikir bukan sekadar apa perusahaannya tapi juga apa industrinya. Apakah industri tersebut dapat bertahan bila terjadi isolasi, lockdown, atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti yang kita alami saat pandemi global?

Orang juga mulai tidak lagi sekadar melihat apakah perusahaan tersebut memiliki produk yang bagus. Namun, juga mulai mempertanyakan apakah perusahaan tersebut dapat bertransformasi dengan cepat bila terjadi satu perubahan yang fundamental. Apakah produk yang ada dapat menjawab kebutuhan dalam situasi dan kondisi yang sudah berubah? Apakah pengalaman pelanggannya dapat disesuaikan dengan situasi saat ini?

Cara berpikir being aware & wary akan terbentuk secara alamiah dalam situasi ketidakpastian yang terjadi. Kebutuhan untuk harus lebih tahu (aware) akan sangat dibutuhkan, tetapi juga perlu diimbangi dengan kehati-hatian mengenai seberapa benar hal yang diketahuinya tersebut (wary).

Cara berpikir ini akan membuat para pelamar kerja lebih kritis, baik dalam mencari tahu mengenai kondisi organisasi yang dilamarnya maupun ketika menerima informasi yang diberikan. Di satu sisi pelamar kerja memang membutuhkan pekerjaan. Namun, dengan pengalaman sebelumnya ketika pandemi global memberikan dampak negatif, kehati-hatian dan proses belajar dari pengalaman juga mempengaruhi proses pengambilan keputusan para pencari kerja.

Oleh sebab itu, coba kita pelajari hasil survei yang sangat menarik dari JobStreet, yang dilakukan kepada 9.800 kandidat pencari kerja di Indonesia pada akhir tahun 2019 lalu. Survei The Laws of Attraction ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang menyeluruh terkait dengan faktor pendorong utama yang mempengaruhi keputusan para kandidat pencari kerja dalam menentukan tempat berkarier. Dari banyak insight menarik yang akan dibahas secara bertahap setiap bulannya, artikel kali ini akan berfokus pada hal-hal yang menjadi perhatian utama para kandidat pencari kerja di Indonesia, serta bagaimana menambahkan warna ketidakpastian dalam pemaknaannya.

 

Sumber: Survei The Law of Attractions JobStreet, tahun 2019

 

Dari tabel di atas, ada tiga hal yang menjadi fokus para pencari kerja, dan secara konsisten muncul di peringkat-peringkat atas untuk seluruh kategori, yaitu ‘peluang pengembangan diri & jenjang karier’, ‘gaji/kompensasi’, dan ‘jaminan kerja’. Coba kita bahas satu persatu ketiga hal tersebut dengan dikaitkan cara berpikir being aware & wary dari para pencari kerja:

  • PELUANG PENGEMBANGAN DIRI & JENJANG KARIER
    Dalam situasi penuh ketidakpastian, rasa aman dalam bekerja dan berkarier menjadi hal yang dipentingkan. Pencari kerja akan melihat apakah dirinya akan dikembangkan untuk bisa optimal dalam menjalankan pekerjaannya? Apa saja program pengembangan yang bisa didapatkan? Apakah ada coaching dan mentoring yang diberikan? Bagaimana proses evaluasi kerjanya? Dan tentunya yang terakhir adalah, bagaimana kejelasan jalur pengembangan karirnya.
  • GAJI DAN KOMPENSASI
    Pencari kerja tentunya harus diinformasikan secara detil terkait elemen-elemen gaji/kompensasi yang akan diperolehnya. Namun, pencari kerja juga akan semakin kritis dengan mempertanyakan hak dan kewajiban mereka saat terjadi situasi krisis seperti pengalaman selama masa pandemi global. Apa saja hak-hak karyawan yang mungkin akan terpengaruh oleh situasi serupa? Bagaimana kejelasan aturan pemerintah dan kebijakan organisasi?
  • JAMINAN KERJA DALAM PERUSAHAAN
    Justru hal inilah yang kemungkinan besar akan banyak menjadi pertanyaan pencari kerja karena ketidakpastian yang ada. Status karyawan, seperti karyawan tetap atau kontrak, pasti akan ditanyakan. Jenis pekerjaannya apakah dalam bentuk proyek atau pekerjaan rutin. Dan tingkat turnover karyawan bisa jadi juga menjadi hal yang ingin dipahami oleh para pencari kerja sebelum mereka memutuskan untuk bergabung dengan organisasi tersebut.

Dengan lebih memahami cara berpikir para pencari kerja tersebut, sebagai organisasi, kita tidak lagi fokus pada apa kelebihan dan kekuatan yang kita punya, namun bagaimana menjelaskannya. Apa yang dapat meredam keresahan mereka? Apa yang dapat meyakinkan keraguan mereka? Apa yang dapat membuat mereka membuat keputusan yang terbaik?

Ujung-ujungnya, proses membuka pintu untuk orang bergabung ke dalam satu organisasi tidak lagi sekadar menambahkan orang. Namun, apakah orang tersebut adalah orang yang paling sesuai untuk maju bersama-sama dengan organisasi dalam menghadapi tantangan bisnis, yang tidak lagi bicara mengenai persaingan sebagai fokusnya, tetapi ketidakpastianlah yang menjadi agendanya.

Agar dapat lebih memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan para pencari kerja di Indonesia dalam memilih organisasi tempat berkarier, Anda dapat mengunjungi situs web JobStreet Indonesia untuk mempelajari lebih lanjut mengenai hasil dari survei The Laws of Attraction.

 

Ditulis oleh Alexander Sriewijono & Maria Tarisa
untuk JobStreet Indonesia edisi bulan Juni 2020

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top