Menjadi Manusia yang Manusia #CosmopolitanCareer with Alexander Sriewijono EP 2

menjadi manusia yang manusia

Menjadi manusia yang “manusia” tanpa kita sadari kerap terlupakan. Good people, apakah Anda merasakan dehumanisasi yang semakin terjadi di sekitar kita? Yang terjadi adalah ketika dua manusia “bertemu” namun kehilangan unsur interaksi antar manusianya.

Apakah kita semakin tidak menjadi manusia yang “manusia” karena kerasnya kehidupan Ibukota? Ataukah mungkin karena beban pekerjaan yang berat? Atau bahkan karena perkembangan teknologi yang membuat proses jadi lebih instan, tapi kehilangan unsur human touch-nya?

Now good people, apakah Anda memiliki pernah mengalami “Dehumanisasi”? Share your thoughts di kolom komentar!

Dehumanisasi dan Tantangan Menjadi Manusia yang Manusia

Coba kita ingat-ingat kembali, seberapa banyak orang yang mengucapkan terima kasih kepada petugas yang membukakan pintu saat masuk ke dalam gedung? Atau berapa banyak orang yang berterima kasih kepada petugas kasir yang membantu merapihkan dan mencatat pembayaranmu?

Rasanya, hal tersebut masih sering terlupakan, ya. Hal inilah yang dapat disebut dehumanisasi, yaitu perbuatan memperlakukan seperti bukan manusia. Apa maksudnya?

Misalkan kita ambil contoh kejadian di atas. Petugas yang membukakan pintu dengan pintu yang terbuka otomatis tentu dua hal yang berbeda, bukan? Yang satu ada seseorang yang membukakan pintu, sedangkan yang satu lagi adalah pintu terbuka secara otomatis by sistem.

Perbedaan tersebut terletak pada adanya sosok manusia. Oleh karena itu, perlakuan yang diberikan pun harus berbeda. Jika Anda tidak menyapa atau menyampaikan terima kasih kepada petugas, maka tindakan tersebut seakan-akan Anda menganggap mereka seperti engsel otomatis.

Membiasakan diri menyapa petugas yang membukakan pintu merupakan salah satu tindakan atau contoh perlakuan memanusiakan manusia yang baik. Dengan melakukan hal tersebut, Anda menganggap keberadaan mereka memang ada. Konsep be more human atau menjadi manusia yang “manusia” pun semakin terbentuk dalam diri Anda.

Perkembangan teknologi memang bisa menggantikan peran manusia, tapi apakah hal tersebut menjadi alasan untuk memperlakukan manusia selayaknya mesin?

Kesalahan Organiasi dalam Mencoba Menjadi Be More Human

Selama work from home, kegiatan meeting dalam organisasi rasanya hanya sekadar menggunakan gadget tanpa adanya interaksi langsung. Tak hanya itu, penggunaan media sosial dalam komunikasi juga rasanya makin lama makin membuat kita merasa jauh dengan orang lain.

Anda mungkin bisa mengirim banyak emoticon peluk dan hati kepada seseorang agar membuatnya terasa nyaman dan dicintai. Akan tetapi justru terasa canggung memberikan pelukan dan menunjukkan kasih sayang saat bertatapan langsung. Hal seperti inilah yang menjadi contoh kesalahan dalam organisasi yang membuat kita lupa untuk be more human.

Terkadang regulasi yang diberikan dalam organisasi membuat karyawan terpaku pada template yang terasa kurang “humanis”. Misalnya, Anda bekerja sebagai customer services perusahaan X. Sebagai seorang customer service, Anda tentu dituntut untuk menyapa pelanggan dengan sopan. Akhirnya, template panggilan Pak atau Bu pun menjadi andalan dan secara otomatis digunakan.

Lantas, apakah seluruh pelanggan tersebut memang sudah berusia dewasa? Bagaimana jika ada pelanggan remaja yang ikut dipanggil Pak atau Bu? Tentu mereka akan merasa kurang cocok dan kurang nyaman, ya. Oleh karena itu, organisasi bisa mulai belajar menjadi manusia yang manusia dengan menghilangkan hal tersebut.

Berinteraksilah dengan pelanggan dan orang lainnya secara sopan dan ramah dengan tetap memandang mereka sebagai sosok manusia. Gunakanlah hati saat berbicara dengan orang lain. Dengan begitu, proses menjadi manusia yang manusia akan semakin berkembang dalam diri Anda.

 

Yuk simak penjelasan Alexander Sriewijono dari Daily Meaning tentang “Be More Human” hanya di #CosmopolitanCareer with 90.4 Cosmopolitan FM