Learn to Plan and Plan to Learn, Faktor Penting yang Perlu Diperhitungkan dalam Proses Hiring Pasca Pandemi

Tidak bisa dipungkiri, bahwa pandemi global telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk pekerjaan. Tidak sekadar melakukan physical distancing, pembiasaan cuci tangan, ataupun pemakaian masker, tetapi penyesuaian cara kerja dan peningkatan kemampuan kerja secara virtual juga menjadi lebih dituntut.

Saat work from home dijalankan selama hampir tiga bulan, sejumlah proses kerja “dipaksa” untuk harus tetap berjalan secara optimal walaupun dilakukan secara virtual. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka, mau tidak mau harus disesuaikan tanpa bertemu langsung. Sejumlah tugas yang sebelumnya dijalankan secara manual, mulai diotomatisasi. Proses bisnis yang panjang semakin disimplifikasi.

Dalam perubahan-perubahan yang terjadi, kita bisa melihat bahwa membuat sistem baru relatif lebih mudah dibandingkan mengubah cara kerja orang yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu, sikap mental yang membuat kita bisa secara intens melakukan learn to plan and plan to learn sangatlah diperlukan.

Learn to plan atau belajar membuat perencanaan secara berkala untuk mampu menghadapi perubahan secara proaktif. Tidak hanya belajar membuat perencanaan saja yang menjadi penting, tetapi apakah dalam perencanaan tersebut kita juga memasukkan rencana untuk belajar? Merencanakan untuk belajar atau plan to learn inilah yang membuat kita tidak menjadi korban dari perubahan yang terjadi, karena membuat diri kita terus menyesuaikan diri dan berkembang sejalan dengan tantangan yang ada.

Sejalan dengan hal ini, dalam artikel “8 Jobs Skills to succeed in a Post-Coronavirus World” yang ditulis oleh Bernard Marr untuk Forbes, disampaikan ada delapan keterampilan utama yang harus dimiliki individu untuk bisa sukses pasca pandemi global. Empat di antaranya terkait dengan kemampuan kita untuk terus berkembang di zaman yang berubah dengan cepat, yaitu kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas, kemampuan untuk menjadi pembelajar terus menerus, kreativitas dan inovasi, serta penguasaan teknologi.

Kepentingan untuk terus berkembang ini tentunya menjadi perhatian bersama, baik organisasi maupun karyawan. Hal ini juga menjadi pertimbangan para pencari kerja dalam mengambil keputusan terkait perusahaan yang akan dipilihnya untuk berkarier. Di sisi organisasi, jelas adanya kebutuhan untuk memiliki karyawan yang dinamis, terus berkembang, dan secara proaktif mampu menghadapi perubahan. Bila perlu, para karyawanlah yang akan menciptakan perubahan dan bukan sekadar bereaksi terhadap perubahan. Sementara itu, dari sisi karyawan atau pencari kerja, tentunya juga akan melihat sejauh mana perusahaan memberikan fasilitas dan kesempatan kepada mereka untuk belajar dan berkembang.

Survei The Laws of Attraction yang dilakukan oleh JobStreet kepada 9.800 kandidat pencari kerja di Indonesia pada akhir tahun 2019 lalu, juga memberikan insight yang sangat menarik terkait dengan learn to plan & plan to learn ini.

LEARN TO PLAN
Dari hasil survei yang dilakukan, ada beberapa hal yang dapat dipelajari terkait dengan kemampuan learn to plan para kandidat pencari kerja, yaitu:

  • Dua Gaya Kepemimpinan yang paling dicari dari sosok pemimpin, terkait dengan kemampuan learn to plan

    Dilihat dari sudut pandang generasi, secara umum ketiga generasi yang menjadi responden penelitian ini, yaitu Gen X, Milennials, dan Gen Z, memiliki pandangan yang serupa bahwa seorang pemimpin harus bersikap profesional dalam menjalankan perannya. Hal ini mencakup kemampuan untuk bertindak sesuai dengan aturan dan kode etik yang berlaku di perusahaan, serta menunjukkan sikap yang bertanggung jawab. Di sisi lain, dua gaya kepemimpinan yang juga dicari oleh para pencari kerja adalah pemimpin dengan arah yang jelas dan juga terstruktur, di mana kedua hal ini sangat erat kaitannya dengan kemampuan membuat perencanaan atau learn to plan.

  • Pemimpin harus bisa memberikan arahan yang jelas serta membuat strategi kerja yang terstruktur

    Ketiga generasi yang menjadi responden penelitian menilai bahwa seorang pemimpin harus mampu memberikan arahan kerja yang jelas kepada tim. Hal ini penting untuk dilakukan agar tim dapat memahami tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan dalam perannya, serta target yang harus mereka capai dalam bekerja. Di sisi lain, mereka juga membutuhkan sosok pemimpin yang terstruktur. Apa artinya? Bagi para pencari kerja, seorang pemimpin haruslah memiliki kemampuan perencanaan kerja yang baik, dimana mereka mampu membuat target yang terukur dan melakukan pembagian tugas yang didasarkan pada kemampuan dari masing-masing anggota tim. Di sisi lain, hal ini juga harus didukung dengan adanya sistem dan prosedur kerja yang jelas dan tegas, sehingga proses kerja tim bisa berjalan secara efisien dan efektif.

PLAN TO LEARN
Adapun terkait dengan kemampuan plan to learn dari para kandidat pencari kerja, didapatkan beberapa insight, yaitu sebagai berikut:

  • Kesempatan mengembangkan diri merupakan faktor penting bagi para pencari kerja

    Jika dilihat dari sudut pandang gender, ada penemuan yang cukup menarik, dimana responden perempuan menempatkan gaji sebagai faktor utama dalam pencarian tempat kerja, sementara kesempatan pengembangan diri menempati peringkat kedua. Sementara itu, responden laki-laki justru melihat kesempatan pengembangan diri sebagai faktor yang lebih penting dibandingkan dengan gaji atau kompensasi yang diberikan perusahaan. Kendati demikian, keduanya tetap menilai bahwa adanya kejelasan jenjang karier, pemberian program pelatihan internal maupun eksternal untuk meningkatkan kompetensi
  • Para pencari kerja di level senior manajemen masih membutuhkan kesempatan mengembangkan diri

    Temuan lainnya yang juga menarik adalah adanya kebutuhan untuk mengembangkan diri bahkan pada level senior manajemen. Biasanya kebutuhan pengembangan diri identik dengan mereka yang baru memasuki dunia kerja, para fresh graduate ataupun entry level. Akan tetapi dari hasil survei yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa seyogyanya proses belajar dan pengembangan diri terjadi secara konsisten dan berkelanjutan. Hanya saja, ada perbedaan kebutuhan pada setiap jenjang pekerjaan.
  • Fokus pengembangan karier berbeda untuk setiap posisi/level pencari kerja


    Seperti yang telah disebutkan pada poin sebelumnya, setiap posisi/jenjang pekerjaan masih membutuhkan adanya program pengembangan diri. Akan tetapi, fokus dan tujuan dari programnya berbeda. Pada posisi entry level/fresh graduate, pengembangan yang dibutuhkan lebih kepada pengembangan keterampilan teknikal, soft skill, dan juga proses mentoring, yang tujuannya membantu mereka dalam proses adaptasi di tempat kerja. Hal ini dikarenakan mereka yang ada di posisi tersebut biasanya baru pertama kali masuk ke dalam dunia kerja, sehingga masih membutuhkan pendampingan yang intens untuk bisa menjalankan peran barunya secara optimal. Seiring dengan bertambahnya pengalaman dan adanya perubahan posisi/level pekerjaan, kebutuhan pengembangan diri pun mengalami pergeseran fokus dan tujuan. Pada posisi/level pekerjaan yang lebih tinggi, tujuan dari program pengembangan diri yang dibutuhkan adalah untuk mendapatkan promosi ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Program-program pelatihan yang akan diberikan oleh organisasi pun bukan sekadar untuk meningkatkan efisiensi kerja mereka. Namun, harus lebih spesifik menyasar pada pengembangan keterampilan dan keahlian yang bisa membantu mereka menduduki posisi yang lebih strategis dalam perusahaan.
  • Program mentoring lebih dibutuhkan oleh Gen Z dan Millennials

    Hal lainnya yang juga menarik untuk dipelajari adalah penerapan program mentoring di perusahaan. Berdasarkan hasil survei The Laws of Attraction yang telah dilakukan tiga generasi berbeda, yaitu Gen Z, Millennials, dan, Gen X, dapat disimpulkan bahwa program pendampingan dan mentor lebih banyak dibutuhkan oleh para pencari kerja di generasi Z dan Milennials dibandingkan mereka yang termasuk di dalam generasi X. Adapun hal ini dikarenakan para pencari kerja di dua generasi tersebut (Gen Z dan Milennials) masih berada dalam tahap awal karier mereka, sehingga lebih banyak membutuhkan pendampingan terkait dengan proses kerja yang berlangsung dalam perusahaan dan juga cara untuk menjadi profesional yang berkualitas. Dengan demikian, mereka dapat menjalankan perannya secara optimal dan memberikan dampak bagi perusahaan. Oleh karena itu, keberadan sosok inspiratif di tempat kerja menjadi daya tarik bagi para pencari kerja Gen X dan Millenials untuk dapat bergabung dalam suatu organisasi.

Dengan memahami insights terkait learn to plan and plan to learn ini, kita bisa meningkatkan sustainability organisasi dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Lakukan penajaman dalam proses seleksi karyawan, untuk bisa menilai kemampuannya dalam membuat perencanaan, dan juga kemampuan belajarnya sehingga terus berkembang. Namun di sisi lainnya, bersiaplah untuk ditanya oleh para pencari kerja hal-hal yang terkait dengan pengembangan diri mereka, karena mereka juga memasukkan rencana untuk belajar sebagai bagian dari perjalanan karir mereka.

Informasi tambahan terkait dengan hasil survei The Laws of Attraction, yang membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan para pencari kerja dalam menentukan tempat berkarier dapat dilihat pada situs website JobStreet Indonesia.

Ditulis oleh Alexander Sriewijono & Maria Tarisa
untuk JobStreet Indonesia edisi bulan Juli 2020

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top