Memprediksi Perubahan Fokus Human Capital di Tahun 2021

Tanpa terasa tahun 2020 akan segera berakhir dan digantikan dengan tahun yang baru. Banyak perubahan terjadi di dalam kehidupan kita karena desakkan faktor eksternal yang tidak bisa kita hindari. Adanya pandemi COVID-19, tidak hanya mengubah pola hidup kita sebagai individu, tetapi juga sebagai seorang profesional. Selama kurang lebih sembilan bulan terakhir ini, kita berjuang bersama-sama menghadapi perubahan demi perubahan yang terjadi. Hal ini kita lakukan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu keberlangsungan bisnis perusahaan. Tidak bisa kita pungkiri pola kerja yang semakin intens ini memengaruhi tingkat kelelehan kita, yang berdampak pada munculnya work fatigue dan juga burn-out. Oleh karena itu, momen liburan di penghujung tahun pun menjadi hal yang dinantikan oleh para porfesional, untuk bisa beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan dan kembali mengisi energi yang sudah hampir habis.  

Di sisi lain, akhir tahun pun menjadi momen yang tepat untuk kita merefleksikan perjalanan selama satu tahun. Hal ini perlu dilakukan, pertama-tama untuk mensyukuri pencapaian-pencapaian kita dan juga untuk mulai menyusun strategi dalam menghadapi tahun 2021 yang sudah menanti di depan mata. Memang masih banyak ketidakpastian yang harus kita hadapi di tahun yang baru. Akan tetapi, pengalaman dan pembelajaran yang kita dapatkan di tahun 2020 ini, tentunya bisa menjadi bekal kita dalam menyusun langkah antisipatif untuk memenangkan ‘pertempuran’ di tahun yang baru, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.   

Bagi kita yang menggeluti dunia human capital, kira-kira hal apa saja ya yang perlu kita jadikan fokus di tahun 2021 mendatang? Yuk, kita simak pembahasannya di bawah ini.  

Pada akhir tahun 2019 yang lalu, Jobstreet Indonesia melakukan survei The Laws of Attraction pada 9.800 pencari kerja di Indonesia. Survei ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang menyeluruh tentang faktor pendorong utama yang mempengaruhi keputusan para pencari kerja dalam menentukan tempat berkarier. Di sisi lain, insights yang didapatkan dari hasil survei tersebut juga dapat dijadikan acuan bagi para praktisi di bidang human capital dalam menerapkan program-program yang berkaitan dengan attracting and retaining talent. Berdasarkan survei tersebut, didapatkan 10 faktor pendorong utama yang memengaruhi keputusan para pencari kerja untuk bergabung dalam suatu perusahaan, seperti yang dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Apa saja insights yang bisa kita dapatkan dari grafik tersebut, khususnya terkait dengan faktor-faktor yang bisa menarik para pencari kerja untuk bergabung dalam suatu perusahaan? Mari kita simak penjabarannya!  

  1. JAMINAN KERJA MEMBERIKAN RASA AMAN BAGI PARA PENCARI KERJA 

Gaji dan kompensasi merupakan faktor pendorong utama yang paling memengaruhi keputusan para pencari kerja dalam menentukan tempat berkarier. Sementara peluang pengembangan dan jenjang karier, serta jaminan kerja menempati urutan kedua dan ketiga. Di tahun 2021 nanti, dengan mempertimbangkan kondisi bisnis global yang baru akan memasuki masa pemulihan dan peluang kerja yang juga menurun drastis, diprediksikan akan terjadi perubahan fokus dari para pencari kerja. Besar kemungkinan, mereka akan lebih mementingkan adanya jaminan pekerjaan dibandingkan dengan besaran gaji atau kompensasi yang mereka terima. Jaminan pekerjaan yang meliputi status sebagai karyawan tetap yang berkaitan dengan stabilitas pendapatan per-bulannya akan memberikan perasaan aman bagi para pencari kerja, khususnya di masa pandemi yang serba tidak pasti.  

  

  1. PELUANG PENGEMBANGAN DAN JENJANG KARIER TETAP DIMINATI PARA PENCARI KERJA  

Adapun kesempatan untuk terus mengembangkan diri serta adanya kejelasan jenjang karier akan tetap menjadi salah satu faktor yang menarik minat para pencari kerja untuk bergabung dalam suatu perusahaan. Bagi para pencari kerja, adanya peluang pengembangan dan jenjang karier yang jelas menunjukkan bahwa perusahaan menempatkan karyawan sebagai salah satu prioritas utama mereka. Hal ini juga menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus mengembangkan kemampuan karyawan. Oleh karenanya, dalam proses rekruitmen ke depannya, penjabaran mengenai program-program pelatihan yang bisa mereka ikuti, serta informasi mengenai prosedur promosi ataupun naik jabatan, perlu tetap diberikan kepada para pencari kerja, untuk semakin menarik minat mereka. Walaupun demikian, di sisi lain perusahaan juga menghadapi tantangan bisnis yang tidak mudah selama masa pandemi. Kebijakan mengenai promosi karir dapat terpengaruhi dengan kondisi tersebut. Namun kesempatan pengembangan diri yang tidak terkait langsung dengan promosi jabatan dapat menjadi alternatif pertimbangan, seperti job enrichment atau job enlargement. 

 

  1. WORK-LIFE BALANCE MENJADI INCARAN PARA PENCARI KERJA 

Perubahan pola kerja yang terjadi di tahun 2020, khusunya selama masa working from home, semakin menunjukkan pentingnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Adanya prosedur yang jelas, terutama terkait dengan waktu kerja, kompensasi terkait lemburan, dan fleksibilitas dalam mengatur waktu kerja, menjadi hal-hal yang diinginkan oleh para pencari kerja. Hal ini pun penting untuk dibicarakan dalam proses rekruitmen, secara khusus saat proses wawancara. Kejelasan mengenai prosedur dan sistem kerja yang akan dijalankan, bisa membantu para pencari kerja untuk dapat mengambil keputusan.  

Terkait dengan proses rekruitmen, pemahaman yang mendalam mengenai faktor-faktor yang menarik minat para pencari kerja akan membantu para praktisi human capital untuk bisa menarik minat mereka. Di sisi lain, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari proses rekruitmen, kejelasan mengenai tugas dan tanggung jawab, serta kompetensi kunci yang perlu dimiliki oleh kandidat juga menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh para praktisi human capital dalam mempromosikan lowongan pekerjaan mereka. Dengan adanya informasi yang jelas dan detail mengenai posisi yang dibutuhkan, dapat memudahkan para praktisi human capital dalam mendapatkan kandidat yang paling tepat.  

Selain permasalahan rekruitmen, para praktisi human capital juga perlu menyusun strategi untuk mempertahankan existing talent yang ada. Penyesuaian peraturan-peraturan perusahaan yang berkaitan langsung dengan proses kerja karyawan, perlu dilakukan untuk bisa membantu meningkatkan produktivitas kerja mereka, yang nantinya juga akan berpengaruh pada pencapaian perusahaan. Di sisi lain, monitoring dan evaluasi terhadap performa karyawan juga perlu terus dilakukan, untuk bisa mendapatkan pemahaman yang menyeluruh mengenai hal-hal yang memengaruhinya. Dengan demikian bisa dilakukan langkah perbaikan yang diperlukan untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan performa mereka.  

Adapun, beberapa hal yang perlu menjadi fokus praktisi human capital untuk bisa meningkatkan performa dan produktivitas karyawan di tahun 2021 adalah:  

  1. MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN KARYAWAN  

Untuk bisa terus mengikuti perubahan yang terjadi dengan cepat, para karyawan perlu terus meningkatkan kemampuan mereka sebagai seorang profesional. Adanya pelatihan-pelatihan secara berkala untuk terus mengasah kemampuan karyawan menjadi salah satu hal yang perlu difokuskan oleh human capital di tahun 2021. Sebab hal ini akan membantu karyawan untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya secara lebih efisien dan juga berkontribusi secara optimal dalam pencapaian target bersama.  

 

  1. MENINGKATKAN LEADERSHIP DARI PARA PEMIMPIN PERUSAHAAN 

Kepemimpinan menjadi salah satu faktor kunci bagi perusahaan untuk bisa bertahan dalam menghadapi masa-masa sulit. Dengan banyaknya ketidakpastian dan perubahan yang terjadi di dalam perusahaan, pemimpin berperan penting dalam menggerakkan tim untuk bisa mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, para pemimpin perlu terus meningkatkan kemampuan leadership mereka, terutama terkait dengan kemampuan leading change dan juga komunikasi. Human Capital bisa mengambil peran sebagai partner bagi para pemimpin dalam mengembangkan kapabilitas mereka. Salah satu cara yang bisa dilakukan, yaitu dengan mengadakan pelatihan-pelatihan kepemimpinan dan juga forum diskusi antar leader, yang bisa menjadi ajang berbagi insights satu sama lain.  

 

  1. MENJAGA WELL-BEING KARYAWAN  

Proses kerja yang intens, terutama selama penerapan kebijakan working from home sangat memengaruhi well-being para karyawan. Tidak adanya kejelasan waktu kerja dan semakin tingginya load pekerjaan membuat banyak karyawan mengalami fatigue dan burnout. Di tahun 2021, di mana Sebagian besar perusahaan masih akan menerapkan kebijakan WFH ataupun kombinasi antara WFH dan WFO, perlu dibuat peraturan yang lebih jelas mengenai prosedur kerja yang ada. Di sisi lain, insiatif-insiatif yang dapat membantu para karyawan untuk menjaga well-being mereka juga perlu diterapkan di perusahaan, sehingga produktivitas pun dapat tetap terjaga.  

 

  1. MEMPERKUAT BUDAYA KOLABORASI DALAM PERUSAHAAN 

Adanya perubahan proses kerja juga memengaruhi proses kolaborasi dalam tim. Proses koordinasi yang lebih banyak dilakukan secara virtual menjadi salah satu tantangan untuk bisa menjaga efisiensi proses kolaborasi tim. Di sisi lain, ditemukan juga permasalahan-permasalahan lainnya, seperti komitmen anggota tim dan trust diantara anggota tim, yang menjadi concern dari para pemimpin dalam menjaga produktivitas kerja tim. Padahal, kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk dapat menghadapi tantangan-tantangan kerja yang ada. Perlu adanya kerja tim yang solid untuk bisa mencapai target yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, human capital pun perlu mencari strategi untuk dapat memperkuat budaya kolaborasi di dalam perusahaan. Misalnya saja dengan mengadakan virtual bonding session bagi para karyawan, yang dapat membantu meningkatkan sense of belongingness mereka.  

 

Secara umum, satu hal yang menjadi target dari human capital di tahun 2021 adalah memberikan full employee experience bagi para karyawan. Dengan mengembangkan strategi dan insiatif yang tidak hanya menyasar masalah performa kerja, tetapi juga well-being, dapat membantu karyawan untuk bisa memiliki employee experience yang positif dalam bekerja. Ketika karyawan memiliki employee experience yang positif, mereka pun mampu untuk memberikan performa kerja yang lebih optimal. Untuk bisa menciptakan hal itu, human capital memiliki peranan penting sebagai partner bagi seluruh karyawan dalam menciptakan situasi dan lingkungan kerja yang kondusif bagi mereka.   

Untuk lebih jauh memahami insights mengenai hal-hal yang diuraikan dalam artikel ini, Anda dapat mempelajari secara lebih detail data-data survei The Laws of Attraction pada situs web JobStreet Indonesia. Dan untuk referensi program-program virtual workshop untuk para people leader dan tim, yang dapat membantu karyawan dalam mengoptimalkan potensi dan peran mereka di perusahaan, dapat dilihat pada situs web Daily Meaning. 

 

 

Ditulis oleh Alexander Sriewijono & Maria Tarisa
untuk JobStreet Indonesia