Upskilling & Upgrading

Perubahan yang terjadi di 2020 membuat hampir semua organisasi menekan reset button atau tombol atur ulangnya seakan-akan dari nol kembali. Situasi bekerja dari rumah, pengaturan batas jarak fisik, hingga ke perubahan perilaku konsumen jelas membawa dampak yang signifikan. Dikarenakan situasi ini boleh dibilang belum pernah ada yang mengalaminya, organisasipun mulai bergerak ‘dari titik nolnya’ ketika pandemi dimulai, untuk melakukan perubahan dan penyesuaian yang dibutuhkan.

Bila sebelumnya VUCA sering digunakan sebagai akronim untuk tantangan di dunia kerja, yaitu volatile, uncertain, complexity, dan ambiguity, bahkan sekarang ditambahkan satu V lagi di belakang yaitu virtual. Koordinasi yang sebelumnya bisa dilakukan di lokasi yang sama, selama pandemi jadi lebih dibatasi bahkan kadang tidak dimungkinkan. Cara kerja berubah, proses kerja disesuaikan, dan mau tidak mau kemampuan kerjapun harus ditingkatkan.

Sejalan dengan itu, dalam artikel ini akan dibahas mengenai upskilling dan upgrading yang menjadi prioritas organisasi saat ini dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi, karena sudah seharusnya tidak terhenti di titik nolnya. Upskilling terkait dengan peningkatan kemampuan karyawan, sementara upgrading adalah peningkatan sistem, prosedur, dan cara kerja yang menjadi lebih efisien dan efektif.

Dalam menentukan strategi upskilling dan upgrading yang tepat sasaran, perlu kiranya mempertimbangkan apa yang menjadi aspirasi dan kekhawatiran para karyawan ataupun calon karyawan, karena merekalah yang akan ditingkatkan kemampuannya dan mereka juga yang akan melakukan perubahan cara kerja, sehingga menjadi lebih optimal.  Untuk itu, artikel ini juga akan diperkuat dengan data survei The Laws of Attraction yang dilakukan oleh JobStreet kepada 9.800 pencari kerja di Indonesia di akhir tahun 2019 yang lalu.

UPSKILLING

Saat organisasi melakukan perekrutan, sudah seharusnya disesuaikan dengan apa yang manjadi concern saat ini. Dengan perubahan-perubahan yang terus terjadi, organisasi tentu menargetkan agar para karyawannya, termasuk yang baru akan bergabung, harus siap dikembangkan dan bisa meningkatkan kemampuan dirinya secara cepat.grafik-1-1-top-5-faktor-dalam-mencari-kerja

Berdasarkan grafik di atas, dapat kita simpulkan bahwa adanya peluang pengembangan diri memang merupakan faktor yang penting bagi para pencari kerja antar generasi dalam menentukan tempat berkarier. Berarti manajemen tinggal mengimbanginya dengan strategi pengembangan yang jelas untuk dapat menjawab tantangan yang dihadapi.

Sebagai referensi lebih detilnya, berikut ini ada beberapa insight terkait dengan peluang pengembangan karier dan jenjang karier antar generasi: grafik-1-2-perbandingan-kebutuhan-pengembangan-karier

  • Selain adanya kejelasan terkait dengan jenjang karier dan proses evaluasi yang harus dijalani sebagai karyawan, para pencari kerja juga menginginkan adanya program pengembangan dan bimbingan keahlian kerja, seperti misalnya pelatihan kerja, on the job coaching, ataupun program orientasi bagi karyawan baru, yang bertujuan untuk bisa membantu mereka dalam menjalankan perannya secara optimal dalam perusahaan. Oleh karena itu, dalam proses rekruitmen, Anda perlu memberikan gambaran yang lebih mendetail terkait dengan program orientasi bagi karyawan baru, termasuk di dalamnya target dan tujuan yang ingin dicapai, agar dapat lebih menarik para pencari kerja untuk bergabung di perusahaan Anda.
  • Adanya kesempatan untuk mendapatkan program-program pelatihan yang dapat menunjang pekerjaan mereka sebagai profesional pun menjadi daya tarik bagi para pencari kerja di ketiga generasi yang menjadi partisipan survei. Selain program pelatihan yang dirancang oleh internal perusahaan, adanya kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pihak eksternal juga bisa menjadi nilai tambah yang membuat para pencari kerja semakin tertarik untuk bergabung dengan perusahaan Anda.
  • Peluang pengembangan diri lainnya yang juga menarik adalah program pendampingan, misalnya saja adanya program buddy coach bagi karyawan baru ataupun program group mentoring. Adanya program-program yang memberikan kesempatan untuk terjadinya interaksi dan proses pertukaran ilmu antara yang junior dengan yang sudah lebih senior, sangat diminati oleh para pencari kerja, terutama mereka yang berada di generasi millennials dan generasi Z.
  • Hal lainnya yang juga menarik bagi para pencari kerja adalah kesempatan untuk mendapatkan beasiswa untuk studi lanjutan, baik di universitas dalam negeri ataupun luar negeri, terutama bagi para pencari kerja di generasi millennials dan juga generasi Z. Adanya dukungan dari perusahaan bagi karyawan untuk dapat melanjutkan studi mereka, menjadi salah satu faktor yang bisa mendorong kedua generasi tersebut untuk bergabung di perusahaan Anda.

 

UPGRADING

Selain upskilling, upgrading juga menjadi hal yang penting bagi organisasi untuk melakukan perubahan-perubahan yang inovatif dalam menghadapi situasi yang ada. Apakah perubahan yang dilakukan hanya sekadar platform komunikasi virtual antar karyawan, atau perubahan yang lebih fundamental dan juga berdampak signifikan pagi para stakeholders terutama konsumen, klien, dan para user?

Organisasi tentunya memerlukan karyawan-karyawan yang tidak berdiam diri di zona nyamannya. Dalam perekrutanpun manajemen perlu mencari orang-orang yang inovatif dan mau menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Coba kita lihat insight dari survei yang dilakukan oleh JobStreet di bawah ini.grafik-1-3-budaya-inovatifkreatif

Terkait dengan budaya kerja di perusahaan, salah satu yang menjadi daya tarik bagi para pencari kerja adalah budaya kerja yang inovatif dan kreatif. Adanya budaya kerja yang inovatif ini memungkinkan perusahaan untuk melakukan proses upgrading secara terus-menerus, sehingga dapat mengoptimalkan proses kerja yang terjadi. Efisiensi dan efektvitas dari prosedur kerja yang terus berinovasi seiring dengan berkembangnya zaman, menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi para pencari kerja untuk bergabung dalam suatu perusahaan.

Oleh karena itu, dalam proses rekruitmen, penting untuk menyampaikan budaya kerja apa saja yang dimiliki oleh perusahaan dan bagaimana budaya kerja tersebut berpengaruh pada proses kerja yang terjadi di perusahaan. Hal ini akan memberikan gambaran yang lebih menyeluruh kepada para pencari kerja, terkait dengan situasi kerja yang ada di perusahaan dan dapat meningkatkan ketertarikan mereka untuk bergabung dengan perusahaan Anda.

 

WHAT’S NEXT?

Dari uraian terkait upskilling dan upgrading di atas, yang bisa kita lakukan sama-sama adalah:

  1. Bila di awal pandemi kita seakan-akan sama-sama di titik nol, kecepatan untuk kita bergerak maju tergantung strategi organisasi Anda dan kesiapan orang-orang di dalamnya.
  2. Tidak bisa tidak, upskilling atau peningkatan kemampuan karyawan dalam menghadapi tantangan yang ada sangatlah penting. Tentukan strategi pengembangan karyawan seperti apa yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk menentukan profil kandidat yang sejalan dengan target pengembangan tersebut.
  3. Untuk bisa memberikan program upskilling yang efektif bagi karyawan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para penggiat HR, yaitu sebagai berikut:
  • Lakukanlah analisa kebutuhan karyawan secara mendetail dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber. Misalnya saja dengan melakukan survei kepada karyawan terkait dengan program pelatihan yang mereka harapkan untuk dijalankan. Hasil survei tersebut kemudian dapat didiskusikan lebih lanjut dengan para team leaders untuk kemudian dirumuskan menjadi TOR (Term of Reference) dari program pelatihan yang akan diberikan oleh karyawan.
  • Jika program pelatihan akan dilakukan secara mandiri oleh internal HR perusahaan, maka perlu dibentuk tim yang akan menjadi penanggung jawab untuk perancangan program pelatihan dan modul pelatihan. Sementara itu, jika akan melibatkan vendor eksternal, maka perlu dibuat mekanisme pemilihan vendor-nya, sehingga dapat memilih partner yang paling tepat untuk merancang program pelatihan tersebut.
  • Terkait dengan eksekusi program, jika waktu dan budget yang dimiliki terbatas, dapat membuat skala prioritas, baik dari segi topik yang akan dibawakan ataupun peserta yang akan mengikuti program tersebut. Bisa memilih topik-topik yang paling relevan dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan saat ini, serta peserta yang memiliki peran kritikal dalam bisnis perusahaan.
  • Evaluasi pelatihan pun menjadi penting untuk dilakukan agar bisa terus meningkatkan kualitas dari pelatihan yang diberikan. Akan tetapi, yang tidak kalah pentingnya adalah implementasi pasca pelatihan, untuk memantau progress dari para karyawan dan juga melihat efektivitas dari program yang diberikan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan tugas yang harus dilakukan karyawan setelah pelatihan diberikan, bisa dalam bentuk proyek kelompok ataupun individual.
  1. Ketika upskilling mulai dilakukan, tidak bisa tidak upgrading juga harus dijalankan. Seberapa inovatif dan kreatifnya budaya perusahaan Anda sehingga progress bisa terus terjadi? Dan berapa banyak karyawan Anda yang berdiam diri di zona nyaman? Saat merekrut, pilihlah mereka-mereka yang juga siap menjadi bagian dari perubahan, yang bukan sekedar menjalankan perubahan tapi bahkan mebuat perubahan.

Untuk lebih jauh memahami insights mengenai faktor-faktor yang terkait dengan upskilling dan upgrading, Anda dapat mempelajari secara lebih detail tentang hasil survei The Laws of Attraction pada situs web JobStreet Indonesia.

 

 

Ditulis oleh Alexander Sriewijono & Maria Tarisa
untuk JobStreet Indonesia