Introduction
2
Introduction to the Course Part 1: Why Difficult Conversation are Challenging?
Seringkali kita dihadapkan dengan keadaan yang mengharuskan kita untuk terlibat dalam difficult conversation, bisa saat kita ingin mengevaluasi tim kita, memberi masukan pada orang lain, memberikan kabar buruk, dan lainnya. Dalam course ini kita akan belajar bagaimana managing difficult conversation dengan tetap bisa menjaga kenyamanan, pemahaman anggota tim atau lawan bicara, dan keberlangsungan hubungan yang baik dengan lawan bicaranya.
3
Introduction to Daily Meaning
Kami Daily Meaning, people development consultant yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Kami menyediakan program-program pembelajaran melalui workshop, webinar, executive coaching, group coaching, seminar, dan bentuk lainnya pada klien-klien korporat dan umum. Berdasarkan pengalaman, kami percaya bahwa program pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar. Kami percaya bahwa cara penyampaian pembelajaran juga sangat esensial dalam menentukan pemahaman pembelajar terhadap materi yang dipelajari. Oleh sebab itu, kami akan memberikan Anda framework pembelajaran yang kontekstual dan relevan yang dapat Anda terapkan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang menyenangkan dan menarik sehingga Anda dapat menikmati waktu belajar Anda dengan kami.
4
Introduction to Course Part 2: How the Course Works
Pembawa materi akan menjelaskan apa yang Sahabat Pembelajar akan dapatkan dan bisa kerjakan selama mengikuti pembelajaran di dalam online course ini.
Focusing on Solution
1
Introduction to Focusing on Solution
Dalam melakukan difficult conversation, konflik cenderung bisa terjadi. Apa yang harus dilakukan saat konflik terjadi?Di bagian ini, kita akan belajar mengenai bagaimana mengatasi konflik dengan fokus pada solusi ketika dihadapkan dengan difficult conversation.
2
Example 2.1: Level 3 of Difficult Conversation (Focusing on Hurting)
Contoh bentuk difficult conversation yang berada pada level 3 dengan tujuan sengaja menyakiti.
3
2.1 Level 3 of Difficult Conversation (Focusing on Hurting)
Penjelasan mengenai difficult conversation level 3 yang bersifat menyerang dan dapat menyakiti perasaan.
4
Example 2.2: Level 2 of Difficult Conversation (Focusing on Winning)
Contoh bentuk difficult conversation yang berada pada level 2 yang berfokus pada siapa yang benar dan siapa yang salah.
5
2.2 Level 2 of Difficult Conversation (Focusing on Winning)
Penjelasan mengenai difficult conversation yang berada pada level 2 yang hanya berfokus untuk menyampaikan apa yang benar dan salah.
6
Example 2.3: Level 1 of Difficult Conversation (Focusing on Solution)
Contoh difficult conversation pada level 1 yang berfokus pada solusi.
7
2.3 Level 1 of Difficult Conversation (Focusing on Solution)
Penjelasan mengenai difficult conversation pada level 1 yang berfokus pada solusi untuk menyelesaikan masalah bersama-sama.
Giving Constructive Feedback
1
3.1 Criticizing vs. Constructive Feedback
Ketika dihadapkan dengan difficult conversation, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan umpan balik yang konstruktif, bukan yang mengkritik. Pada bagian ini, Sahabat Pembelajar akan belajar mengenai perbedaan antara umpan balik yang konstruktif dan mengkritik.
2
Example 3.1.1: Criticizing Feedback
Contoh pemberian umpan balik dengan pendekatan yang mengkritik.
3
3.1.1 Criticizing Feedback
Penjelasan mengenai contoh umpan balik yang mengkritik.
4
Example 3.1.2: Constructive Feedback
5
3.1.2 Constructive Feedback
Penjelasan mengenai contoh umpan balik yang konstruktif sehingga berfokus pada apa yang dapat diperbaiki ke depannya.
Dalam menyampaikan umpan balik yang konstruktif, kita dapat menerapkan talking filters supaya umpan balik yang kita berikan dapat semakin kuat dan berdampak. Pada bagian ini, Sahabat Pembelajar akan belajar penggunaan talking filters dalam melakukan diskusi dengan tim.
8
Example 3.2.1 No Talking Filters
Contoh diskusi tanpa menggunakan talking filters.
9
Conversation With No Talking Filters
Penjelasan mengenai diskusi yang tidak menggunakan talking filters dan tanpa intensi yang jelas.
10
Example 3.2.3 Example of Talking Filters
Contoh diskusi yang menggunakan talking filters.
11
Conversation With Talking Filters
Penjelasan mengenai diskusi yang menggunakan talking filters dengan intensi yang jelas untuk memahami dan mencari jalan keluar bersama.
Memberikan umpan balik yang konstruktif juga dapat dilakukan dengan menggunakan BOOST Formula supaya tetap efektif dan optimal.
14
Example 3.3: BOOST Formula
Contoh penerapan BOOST Formula dalam memberikan umpan balik.
Penjelasan mengenai penerapan dari BOOST Formula dalam contoh sebelumnya.
Neuroscience in Difficult Conversation
1
4.1 Introduction to Neuroscience in Difficult Conversation
Menerapkan prinsip neuroscience dalam melakukan difficult conversation dengan menyentuh lapisan-lapisan otak supaya diskusi yang dilakukan tajam, dapat diterima, dan dapat menggerakan. Pada bagian ini, Sahabat Pembelajar akan belajar cara menerapkan lapisan-lapisan otak dalam melakukan diskusi dengan lawan bicara.
3
4.2 Creating a Sense of Urgency and Importance
Penjelasan mengenai lapisan otak yang pertama yaitu otak reptil untuk menciptakan rasa keterdesakan yang pas pada lawan bicara.
4
Example 4.2.1: Otak Reptil yang Kurang
Contoh penggunaan otak reptil yang kurang dalam menyampaikan sesuatu dengan lawan bicara.
5
Example 4.2.2: Otak Reptil yang Berlebihan
Contoh penggunaan otak reptil yang berlebihan dalam menyampaikan sesuatu dengan lawan bicara.
6
Penjelasan Otak Reptil yang Kurang dan Berlebih
Penjelasan mengenai penerapan otak reptil yang kurang dan berlebihan.
7
Example 4.2.3: Otak Reptil yang Pas
Contoh penggunaan otak reptil yang pas dalam menyampaikan sesuatu kepada lawan bicara.
8
Penjelasan Otak Reptil yang Pas
Penjelasan mengenai penggunaan otak reptil yang pas dalam menyampaikan sesuatu kepada lawan bicara.
10
4.3 Creating a Sense of Comfort
Penjelasan mengenai penggunaan lapisan otak yang kedua yaitu otak mamalia untuk memberikan rasa nyaman dalam menyampaikan sesuatu kepada lawan bicara.
11
Example 4.3.1: Otak Mamalia yang Kurang
Contoh penggunaan otak mamalia yang kurang sehingga terasa kaku.
12
Example 4.3.2: Otak Mamalia yang Berlebihan
Contoh penggunaan otak mamalia yang berlebihan sehingga terkesan sok akrab.
13
Penjelasan Otak Mamalia Kurang dan Berlebih
Penjelasan terkait contoh penggunaan otak mamalia yang kurang dan berlebihan.
14
Example 4.3.3: Otak Mamalia yang Pas
Contoh penggunaan otak mamalia dalam kadar yang pas sehingga menciptakan rasa nyaman dalam menyampaikan sesuatu kepada lawan bicara.
15
Penjelasan Otak Mamalia yang Pas
Penjelasan terkait contoh penerapan otak mamalia yang pas.
17
4.4 Creating the Right Level of Understanding
Penjelasan mengenai lapisan otak yang ketiga yaitu otak primata untuk menyampaikan pesan yang informatif kepada lawan bicara.
18
Example 4.4.1: Otak Primata yang Kurang
Contoh penggunaan otak primata yang kurang sehingga informasi yang disampaikan terasa tidak jelas.
19
Example 4.4.2: Otak Primata yang Berlebih
Contoh penggunaan otak primata yang berlebihan sehingga informasi yang disampaikan terasa tidak fokus.
20
Penjelasan Otak Primata yang Kurang dan Berlebih
Penjelasan terkait contoh penggunaan otak primata yang kurang dan berlebihan.
21
Example 4.4.3: Otak Primata yang Pas
Contoh penggunaan otak primata yang pas sehingga informasi yang diberikan terasa informatif.
22
Penjelasan Otak Primata yang Pas
Penjelasan terkait penggunaan otak primata yang pas.
Summary