Be More Human

Awalnya saya merasa interaksi dengan petugas tol di Jakarta selama ini memang sudah sewajarnya demikian, hingga kemudian saya mendapatkan pembandingnya saat berada di Surabaya. Antara petugas tol dan pengendara masih terjadi interaksi “antar manusia”, dan bukan sekadar pertukaran antara karcis tol dan uang.

Kata terima kasih masih saling dilontarkan, dan kadang-kadang ditambahkan kata-kata “hati-hati di jalan” atau “selamat jalan”. Dengan pengalaman yang terasa lebih menyenangkan itu, langsung saya merasa situasi di gerbang tol di Jakarta ada yang tidak wajar, saat dua manusia “bertemu” namun kehilangan unsur interaksi antar manusianya.

Apakah dehumanisasi semakin terjadi dengan alasan kerasnya kehidupan Ibukota? Kalau toh bukan ibukotanya yang dijadikan kambing hitam, apakah dehumanisasi semakin terjadi dengan alasan beban pekerjaan?

Atau karena merasa kehidupan harus dijalani dengan berlari-lari kesana kemari dengan waktu yang semakin terbatas? Atau bahkan karena perkembangan teknologi yang membuat proses menjadi lebih instan tapi kehilangan unsur human touchnya?

Kampanye “Be More Human” atau “Back to Human Again” mulai bermunculan karena rasa nyaman dalam berinteraksi dan saling respect menjadi “faktor x” yang juga berkontribusi pada hasil akhir. Bukan sekadar seberapa cepat pekerjaan bisa dilakukan, tetapi seberapa tidak melelahkan rasanya mengerjakan pekerjaan yang banyak tersebut dalam waktu yang terbatas. Bukan sekadar seberapa berat beban kerja yang ada, tetapi seberapa jauh kebersamaan untuk menyelesaikan tantangan tersebut lebih terasa. Berikut ini beberapa hal yang bisa membuat kita “be more human” dalam keseharian kita.

Human Moment

Dengan teknologi yang semakin canggih, komunikasi interpersonal semakin diwakilkan e-mail, SMS, WhatsApp, Line, dll. Bila untuk kepentingan dokumentasi kerja, memang e-mail sangat diperlukan. Tetapi untuk mengajak makan siang rekan di sebelah meja bila dilakukan melalui e-mail rasanya semakin kehilangan human
momentnya.

Selain itu, emoticon juga semakin banyak dipakai untuk mewakili ekspresi tertawa, tersenyum, dan sedih. Apakah betul bisa terasa nyata bagi penerima pesan tersebut? Seberapa jauh kata “hugs” yang dituliskan memberikan rasa nyaman yang sama seperti saat pelukan nyata diberikan?

Human moment” mensyaratkan tidak sekadar kehadiran fisik dalam ruang yang sama, namun juga adanya perhatian secara intelektual dan emosional. Seberapa jauh pertanyaan “apa kabar?” disempatkan untuk ditanyakan secara langsung, dan tidak selalu diwakili kata-kata yang dikirimkan.

Seberapa jauh hadir di meeting, namun jangan hanya ada satu orang yang bicara dan lainnya sibuk dengan laptopnya? Seberapa jauh masalah tak kunjung selesai dengan e-mail yang “back and forth” tanpa adanya diskusi tatap muka yang lebih mengurangi salah paham?

Procedure Vs. Experience

Dalam banyak situasi di organisasi, fokus dari sejumlah tindakan adalah “menjalankan prosedur”, bukan pada “user experience” yang ditargetkan. Pernah pada suatu saat saya sedang menuju rumah sakit karena tidak enak badan, dan tiba-tiba menerima telepon dari telemarketing.

Salam pembukanya terasa sangat baku sesuai standar; “Selamat sore Pak Alexander Sriewijono, apa kabar Bapak, tentunya baik-baik saja.” Jujur, prosedur yang dijalankannya tersebut sangat tidak merespect perannya sendiri dan juga pelanggannya.

Bertanya kok dijawab sendiri. Saat saya minta untuk diulangi tanya apa kabar ke saya, saya kemudian menjawabnya dengan, “Saya sedang sakit, Mas.” Sang telemarketer kemudian melanjutkan rangkaian prosedurnya dengan berkata: “Senang sekali mendengarnya. Bersama ini kami informasikan….. dst..dst..” Dehumanisasi terjadi, kondisi sakitnya saya bukan yang menjadi fokus perhatiannya, tapi yang penting menjalankan tugas.

Be more human please, dengan fokus pada pengalaman yang dirasakan oleh user kita, bukan sekadar prosedur yang harus dijalankan.

The Story of Us

Dalam situasi sales & marketing, seberapa jauh Anda melakukan pendekatan outside-in dengan memahami “cerita” dari customer Anda dan bukan hanya terfokus produk dan target Anda. Dalam situasi IT, seberapa jauh ahli IT hanya menyelesaikan masalah, atau bisa membuat user lebih paham mengapa masalah tersebut terjadi dan apakah ada upaya pencegahannya.

Dalam situasi perekrutan karyawan, seberapa jauh kandidat mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, dan bukan sekadar diperlakukan sebagai pelamar kerja yang membutuhkan pekerjaan. Seberapa jauh kita memahami aspirasi karier mereka dan cerita apa yang bisa dibuat bersamasama saat mereka bergabung di organisasi, bukan sekadar ada lowongan pekerjaan yang harus diisi.

Di Daily Meaning, tahap awal yang harus dilakukan oleh kandidat adalah menjawab “7 YOU-nique Questions”, yang membuat kami bisa memahami hal-hal apa yang paling penting. Hal-hal yang bisa membuat mereka frustrasi dan tidak tampil nantinya. Hal-hal yang membuat mereka excited, dll.

Psikotes yang dijalankan bukan sekadar tahapan seleksi, namun untuk lebih memahami profil mereka sebagai manusia. Kandidat juga diberikan hasilnya, untuk nantinya bersama-sama disepakati hal-hal apa yang harus segera diatasi dari kekurangan yang ada, dan kekuatan apa dari diri mereka yang bisa dimanfaatkan dalam peran yang akan dijalankan nantinya.

Selamat kembali menjadi manusia dan juga memanusiakan orang-orang di sekitar kita. Walaupun zaman semakin canggih, bukan berarti dehumanisasi yang terjadi. Be more human please.

Artikel ini diterbitkan dalam majalah intisari Januari 2017