Home / Blog / Dialogues (tv/radio/published) / Women vs. Office Battlefield

10
Mar
Women vs. Office Battlefield
Women vs. Office Battlefield
  • 78 Views
  • 0 Comment
  • articles . CosmoCareer . dialogues .

Sewaktu jalan-jalan ke toko buku akhir pekan kemarin, melihat buku yang judulnya Nice Girls Don’t Get the Corner Office: 101 Unconscious Mistakes Women Make That Sabotage Their Careers. Cukup mengundang juga judulnya, karena memang mempertanyakan hubungan antara perempuan dan karir-nya yang sepertinya seperti serba salah. Bila pria tegas, maka Ia dikenal “tegas” dan perempuan dikenal “galak.” Bila pria tidak tersenyum, Ia berwibawa, dimana perempuan dikenal “jutek.” Bagaimana menghadapi semua stereotype ini?

Diskusi live di Breakfast Club @cosmopolitanFM kali ini pun seru, karena yang hadir di acara temu cosmoners kali ini pun 80% perempuan. Apa tips-tipsny kali ini untuk perempuan di tempat kerja?

Berbicara perempuan, apakah kita berbicara tentang jenis kelamin atau jender? Berbicara jender ada hubungannya dengan peran, yang bisa saja sangat lembut di satu sisi dan di sisi lain sangat ganas. Banyak melihat perempuan di tempat kerja hanya sebatas jenis kelaminnya saja, padahal bila hubungannya dengan profesionalisme, kredibilitas dan pekerjaan, bukankah yang sebaiknya dilihat adalah peran-nya di fungsi yang dijalankannya? Mau laki-laki ataupun perempuan di suatu posisi bukan menjadi inti permasalahannya, tetapi bagaimana mereka bisa menjalankan peran tersebut?

Memilih pemimpin perempuan atau laki-laki? Ketika pertanyaan ini dilontarkan kepada para pengunjung, ada yang menjawab laki-laki ataupun perempuan. Terlepas dari atasan yang laki-laki ataupun perempuan, memang chemistry bekerja sama dengan orang lain itu penting dan preference itu memang diperbolehkan. Tetapi bila kita tidak bisa memilih untuk memiliki atasan seperti apa yang kita terima, coba untuk melihat orang lain bukan dari laki-laki atau perempuan, tetapi dari peran yang mereka jalankan dan kemudian menerima kelebihan dan kelemahan orang tersebut apa adanya. It takes two to tango, bagaimana dengan peran Anda juga? Bagaimanapun juga, apakah ada atasan yang sempurna?

Benarkah bila lembut tidak akan kemana-mana? Ada perbedaan antara lembut dan tegas. Ibu saya sangat lembut, tetapi beliau sangat tegas. Menjadi pemimpin memang diharapkan untuk bisa tegas, karena ini yang akan memberikan rasa aman/nyaman bagi anak buahnya. Tetapi, tegas pun bisa lembut dan lembut pun bisa kasar. Mengatakan “saya rasa otak kamu memang sudah tidak ada lagi di kepala kamu” dengan nada yang sangat lembut sudah menjadi contoh yang kasar. Perhatikan pendekatan Anda, tegas itu prinsip sedangkan lembut atau kasar itu cara penyampaiannya.

Hati-hati disalah artikan. Ketika secara tidak sadar memainkan ujung rambut ataupun membasahi bibir yang kering, ini bisa diartikan sesuatu yang sangat seksual bagi lawan jenis. Dari penampilan dan cara berbicara Anda pun juga bisa. Jadi, perhatikan kebiasaan dan bahasa tubuh Anda.

Apa tips-tips Anda untuk perempuan di tempat kerja?

@aristiwidya

0 COMMENTS
LEAVE A COMMENT