Home / Blog / When small thing creates big impact

16
Feb
When small thing creates big impact
  • 99 Views
  • 0 Comment
  • articles . books .

Bisnis berkembang dalam pattern normal, itu hal yang ‘ordinary’. Di sisi lain, (sedikit) bisnis berkembang dengan peningkatan secara tajam, ini disebut ‘extra-ordinary’. Dalam keseharian, kita pun menemukan banyak orang-orang ‘biasa’ dengan aktivitas keseharian mereka dan menemukan sedikit yang membuat kita kagum akan pekerjaan atau kepribadian mereka.

Apa yang membuat terjadi perbedaan antara ‘ordinary’ dan ‘extra-ordinary’? Pertanyaan yang menarik untuk dipikirkan di bulan kedua tahun 2012 ini. Salah satu buku yang membahas hal ini ditulis oleh Malcolm Gladwell “Tipping Point” yang memberikan insight bagaimana hal-hal kecil berhasil membuat perubahan besar.

Ide dasar dari buku ini merupakan thinking process dari fenomena yang menjadi epidemi di masyarakat. Sekelompok kecil anak muda yang memakai sepatu karena ingin terlihat beda kemudian mempengaruhi peningkatan secara ekstrem berpuluh kali lipat penjualan Hush Puppies, secara global. Setelah berbagai upaya dilakukan untuk meredam tingkat kejahatan, melalui kebijakan penertiban vandalism di stasiun kereta api berhasil menurunkan tingkat kejahatan secara menyeluruh. Dan fenomena-fenomena menarik lainnya yang membuat kita berpikir, bagaimana perubahan yang epidemik tersebut terjadi?

Jika kita merangkumnya, maka isi dari buku ini terbagi dalam 3 bagian:

1. Hukum tentang Yang Sedikit (The Law of The Few)

2. Faktor Kelekatan (The Stickiness Factor)

3. Kekuatan Konteks (The Power of Context)

Perubahan-perubahan epidemik yang terjadi di sekitar kita ternyata dipengaruhi oleh 3 peran, yang disebut sebagai The Law of The Few, yaitu: Connectors (memiliki & networking luas yang mereka kembangkan by instinct), Maven (memiliki pengetahuan luas & mendalam, sumber referensi, mampu menghubungkan dampak satu fenomena dengan fenomena lainnya, berbagi informasi bukan untuk keuntungan tetapi lebih kepada misi sosial) dan yang terakhir adalah Salesman ( Tinggalkan pemikiran para sales yang mendatangi Anda di mall karena konsep Salesman ini merupakan orang-orang yang memahami kebutuhan klien mereka. Mereka menyukai klien mereka dan hal tersebut yang terekspresi dalam relationship yang mereka bangun dengan klien).

Ketiga peran ini bukan teori tetapi Gladwell memberikan contoh tokoh yang real di masing-masing peran. Gagasan ini membawa pertanyaan besar di kepala saya: “jadi peran saya lebih ke yang mana ya? Orang-orang di sekitar saya perannya sebagai apa? Pekerjaan yang saya lakukan berhubungan dengan orang-orang seperti apa?”

Tahun ini, salah satu tag line kami di Daily Meaning adalah spread the inspired actions (inpacts), mengajak orang-orang to do something yang menginspirasi dan membawa perubahan positif. Terkait dengan insight dari buku ini, salah satunya mau mengajak para pembaca untuk mengenali role(s) apa yang menjadi kekuatan kita. Jika ini dikembangkan, kita akan melihat orang-orang yang passionate di pekerjaannya, stand out di bidang yang ditekuni. Tidak mustahil jika nanti kita bisa melihat atau mendengar satu perubahan epidemik terjadi meluas secara cepat dimana aktor yang terlibat didalamnya adalah diri kita atau orang-orang terdekat kita.

Salah contoh yang saya sangat terinspirasi adalah gerakan ‘Indonesia Mengajar’, dipelopori oleh Bapak Anies Baswedan. Ribuan anak muda mendaftar menjadi guru di daerah terpencil. Hal yang extra-ordinary karena biasanya ketika lulus kuliah yang dicita-citakan adalah bekerja di perusahaan besar dengan kenyamanan hidup perkotaan. Bagi saya, tidak hanya seorang Pak Anies Baswedan yang dapat melakukan tipping point. Orang-orang biasa pun bisa melakukannya, seperti sekelompok orang-orang yang menekuni bidang entrepreneurship. Mereka, sekelompok kecil orang, mengerjakan proyek perubahan yang tidak jarang cakupannya sampai pada dunia internasional.   The Law of Few tidak berarti hanya sekelompok kecil orang tertentu yang bisa melakukan tipping point tetapi maknanya adalah hanya satu atau sedikit orang bisa melakukan perubahan besar.

Sudah mulai memikirkan peran Anda kekuatannya sebagai apa?

Mendiskusikan The Stickiness Factor dan The Power of Context tidak kalah serunya. Penelitian yang dilakukan dalam pembuatan film Sesame Street membuktikan bahwa hal-hal yang dianggap ‘kecil’ ternyata dapat menjadi faktor kunci yang membuat film ini melekat di benak anak-anak pada jamannya. Sebagai contoh, buat orang dewasa menonton satu film berulang kali adalah hal yang membosankan tetapi ternyata tidak bagi anak kecil. Dengan perulangan, anak kecil belajar untuk memahami hal baru dan bagi mereka kebanggaan saat berhasil mengikuti jalan cerita Elmo dan kawan-kawan tersebut. Apa yang melekat pada satu situasi belum tentu terjadi di situasi lainnya.

Insight dari The Power of Context juga merupakan factor penting dari suatu tipping point. Salah satu contoh yang disajikan oleh Gladwell adalah ketika sekelompok relawan dikondisikan berada di penjara buatan dengan sipir dan sistem penjara yang real. Dalam hitungan waktu kepribadian mereka berubah dari orang-orang dengan latar belakang bersih hukum menjadi orang-orang yang berperilaku sama seperti penjara sungguhan. Konteks mempengaruhi perilaku seseorang. Jika kita mencermati perilaku disekitar kita maka dengan mudah akan menemukan pola tren apa yang berlaku. Well, pertanyaannya adalah bagaimana kita ‘menangkap’ konteks disekitar kita untuk do something good, mungkin dalam pekerjaan ataupun menjaga diri kita dan orang-orang yang kita cintai dari tren yang tidak baik.

Artikel ini hanya membahas gambaran besar dari buku Tippping Point. Pembaca akan menemukan bahwa buku ini sangat kaya akan pembahasan dan insights yang disajikan dapat menjadi referensi untuk kehidupan sehari-hari. So, selamat membaca dan feel free untuk mendiskusikan insights yang didapat dari buku ini bersama kami!

cheers,

irmayani sembiring

0 COMMENTS
LEAVE A COMMENT