Pc Artikel Pic2

Apa yang kamu rasakan ketika memasuki dunia kerja di usia 20-an? Excited? Atau bahkan overwhelmed? Usia 20-an seringkali dianggap sebagai usia produktif, di mana kita sebagai individu mulai diberikan sejumlah tanggung jawab, baik itu secara personal maupun sebagai professional. Di usia 20-an ini kita juga akan merasakan berbagai challenge, salah satunya terkait soal aktualisasi diri. Kondisi ini ditandai dengan keinginan untuk bisa meningkatkan value dari diri kita. Kalau kamu pernah punya pikiran seperti “Duh, kayanya gue perlu nambah skill baru deh!” atau “Mau coba apply di perusahaan X ah, supaya gaji juga bisa naik!”, nah itu tandanya aspek aktualisasi diri kita sedang terjadi. Hal ini sangat normal dialami oleh semua manusia, terutama untuk kita yang berusia 20-an.

Di samping itu, saat ini banyak orang di usia kepala dua yang mulai memperhatikan kesejahteraan psikologisnya, atau yang dikenal sebagai psychological well-being. Topik terkait psychological well-being ini yang juga menjadi dasar teori skripsi saya saat kuliah. Dari 6 aspek yang menjadi indikatornya, ada salah satu aspek yang cukup menarik, yakni Personal Growth. Aspek ini mengukur sejauh mana individu terus berusaha untuk mengembangkan diri, terbuka dengan pengalaman baru, dan menyadari improvement yang dialami.

Jika Tuhan berencana, di tahun ini usia saya akan menginjak 28 tahun. Yaaah, di usia ini sih sudah tidak bisa lagi dianggap muda ya, namun juga belum tua-tua amat lah hehehe.. Dan tidak terasa, bahwa sudah hampir 4 tahun juga saya menjalankan peran sebagai Consultant di Daily Meaning. Dalam pengalaman saya, menjadi “pekerja kantoran” ternyata lumayan seru dan challenging sih! And also having a career in your twenties is sometimes a bit tricky! Ada banyak tuntutan yang harus kita hadapi dalam pekerjaan, entah itu target KPI, networking, gaya leadership, dll. “Terus gimana dong cara kita supaya tetep keren sebagai professional di usia 20-an?”  Dari yang saya alami dan pahami, ada beberapa tips yang bisa memberikan “bumbu special” untuk memperkuat kualitas kita sebagai professional di usia 20-an, dan tentunya meningkatkan aspek Personal Growth kita pribadi. Here we go!

1. “Choose the Leader, not the Company” (Leadership)

Setelah lulus dari perguruan tinggi, banyak di antara kita yang memiliki keinginan untuk bisa bekerja di perusahaan A, atau B, atau C yang dianggap keren. Meskipun saya mengambil jurusan Psikologi, tapi setelah lulus kuliah dulu bahkan saya sempat punya cita-cita untuk bekerja di multinational advertising agency. Impian seperti itu tentu tidak salah. Setiap orang berhak memilih di mana dia ingin berkarir. Namun yang perlu diperhatikan, sebagian besar karakter kita dalam bekerja justru tidak hanya dibentuk oleh di mana tempat kita bekerja, tapi juga dengan siapa kita bekerja. Dalam hal ini kita coba kerucutkan konteksnya kepada orang yang sering berkolaborasi dengan kita: our leader.

Saat saya ngobrol dengan teman-teman yang bekerja di berbagai perusahaan lain, terkadang topik obrolannya ngga jauh dari soal pekerjaan, dan terkadang diawali dengan kalimat “Boss gue tuh ya…”. Dari sesi ngobrol tersebut, saya menangkap kesimpulan bahwa banyak yang merasa happy dan inspired dengan cara boss-nya memimpin. Namun tidak jarang yang mengeluhkan hal ini dan itu terkait boss-nya tersebut.

The good leaders shape team, but great leaders inspire them.” Menurut saya, di usia 20-an kita sangat perlu untuk memahami etos kerja, cara kerja, dan sikap kerja yang baik. Percayalah, pelajaran dan pengalaman tersebut mahal banget harganya, dan tentu berguna untuk memperkuat kemampuan leadership kita. Nah, untuk mempelajari hal tersebut, penting bagi kita untuk memiliki sosok inspiratif yang bisa dijadikan contoh. Saya adalah tipe orang yang observer sekaligus doer. Jadi penting untuk saya mendapatkan sosok dan contoh yang efektif.

Bicara soal perusahaan, saya yakin ada banyak orang yang ingin bekerja di perusahaan besar dengan skala multinasional. Namun saat ini saya justru bekerja di perusahaan dengan skala kecil, jumlah team kami tidak lebih dari 15 orang. Tapi dari perusahaan kecil ini lah saya bisa lebih mempelajari berbagai hal dengan lebih intens, di antaranya: perspektif sebagai business owner, bagaimana leader mengembangkan bisnis, dan juga mengembangkan business ownership.

2. “Be Productive” (Impact)

Saat dulu mengajarkan saya cara membuat kue kering untuk Lebaran, ibu saya pernah berkata “Bikin kue itu hasilnya harus enak. Kenapa? Karena proses membuatnya saja sudah bikin capek. Jangan sampai sudah bikin susah-susah, eh rasanya malah ngga karuan! Itu namanya rugi dua kali.” Saya merasa pesan ibu saya itu ada benarnya. Apa yang kita lakukan harus terasa dampaknya dan bisa dinikmati. Jadi saat harus membuat kue, saya akan memastikan betul bahwa hasilnya enak. At least bisa dimakan hehehe..

Terkadang prinsip membuat kue tersebut saya terapkan juga di pekerjaan. Di tahun pertama saya berkarier di Daily Meaning, leader saya pernah berkata, “Coba bedakan antara sibuk dan produktif. Kalau hanya sekadar banyak kerjaan, tapi ngga ada dampaknya, berarti ada yang salah. Produktif harus bisa dibuktikan dengan impact-nya.” And I do agree. Pernah ngerasa ngga, agenda kita dipenuhi dengan banyak sekali hal yang harus dilakukan: meeting ini dan itu, menyusun report ini dan itu, dan lain sebagainya? Belum lagi dipengaruhi oleh perjalanan dari dan ke kantor yang cukup melelahkan. Di akhir hari, saat kita bertanya ke diri sendiri “What have you done today?”, mungkin kita bisa menyebutkan rentetan aktivitas kita di hari tersebut. Namun saat kita bertanya “What kind of impact did you make today?”, bisa jadi kita butuh waktu lebih lama untuk memikirkannya.

Menjalankan peran, sekecil apapun lingkup pekerjaannya, harus bisa memberi dampak positif. Yang tidak boleh dilupakan, saat “kue” yang kita buat terasa ngga enak, ya ngga apa-apa. Kita bisa terus mencoba untuk membuat yang lebih enak. Don’t quit!

 3. “Embrace Failure & Open for Feedback” (Maturity)

Saya bisa berkata, bahwa sebagai pekerja di usia 20-an adalah waktu yang tepat untuk kita berbuat “salah”. Kenapa begitu? Karena justru dengan melakukan kesalahan, kita memahami hal apa yang sebetulnya benar dan menjadi ekspektasi dari peran kita. Usia 20-an adalah waktu yang “pas” untuk mengalami semua kondisi: sukses-gagal, pasang-surut, turun-naik, dsb. Dari pengalaman saya, salah satu hal yang berpengaruh dalam proses tersebut adalah cara kita menerima feedback dari orang lain. Proses menerima feedback ini bisa dirasa sulit kalau maturity level kita belum cukup matang. Saat dikasih feedback, eh kita jadi “baper”. Nah lho, pernah ngalamin kaya gini ngga?

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa generasi millennials justru sangat senang mendapatkan feedback. Tapi kalau kita tidak cukup dewasa dalam menyikapi feedback tersebut, leader kita tentu juga “malas” menghadapi anggota team yang baperan kan? Padahal yang dikasih feedback bisa jadi cara kerja atau hasil kerja kita, bukan diri kita as a person. So, my lesson learned adalah, saat hasil kerja kita dianggap belum maksimal, coba analisa dulu dan jangan lupa ajak diskusi si pemberi feedback tersebut. Catat semua hal yang jadi masukan, dan kalau memungkinkan kerjakan semuanya satu persatu. Skill of receiving feedback is so important for us. Jangan merasa “gue udah bisa” duluan. That’s a big no no!

4. “Widen Your Network” (Social Skill)

Tidak bisa dipungkiri, saat sudah jadi pegawai seperti sekarang, hari Sabtu dan Minggu jadi sangat saya rindukan. Hehehe.. Karena di hari itu lah saya punya waktu yang lebih luang untuk mencurahkan perhatian saya di luar konteks pekerjaan. Salah satunya dengan menghabiskan waktu dengan teman-teman dan keluarga. Sebagai perantau, sebisa mungkin saya tetap meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga di luar kota.

Di luar lingkungan yang sudah ada, kita perlu juga memperluas pergaulan kita. Ada beberapa cara agar kita bisa memperluas kehidupan sosial tersebut. Mengikuti berbagai komunitas contohnya, baik yang secara langsung menunjang karir, ataupun yang sifatnya sekadar hobi. Beberapa waktu lalu saya pun sempat ikut open class untuk belajar Human Sketching. Selain untuk meningkatkan skill menggambar saya, tentu juga saya manfaatkan untuk berkenalan dengan orang baru. I really enjoyed it! Memasuki lingkungan dan pergaulan yang baru terkadang sangat menyenangkan lho. You will never know who the resourceful person you will meet!

Strategi ini bukan hanya membantu kita menjadi lebih luwes saat bertemu orang lain, namun juga membantu kita dalam memahami berbagai perspektif baru, dan menyikapinya secara open minded. Terutama dalam konteks pekerjaan, kemampuan bersosialisasi ini sangat menunjang credibility kita. Yuk mulai perluas jejaring sosial kita. Bahkan aplikasi pertemanan seperti Tinder bisa menjadi pilihan lho! Tertarik mencoba?

5. “Enjoy the Moment” (Mindfulness)

Bekerja di kota besar memiliki pace-nya tersendiri. Proses koordinasi pekerjaan bisa terjadi sangat cepat dan perubahan bisa terjadi setiap saat. Sebagai perantau dari luar kota, saya pun terkadang berpikir “Kerja di Jakarta ini cepet juga ya..” sehingga seringkali kita dituntut untuk “ngebut” untuk meraih sesuatu. Di samping itu, kebiasaan membandingkan kondisi kita dengan orang lain juga acapkali terjadi. Hal itu yang bisa membuat kita stress dan akhirnya kewalahan “berlari”.

Menurut saya, salah satu kuncinya adalah be mindful! Fokus pada kondisi masa kini dan hargai setiap prosesnya. Sebagai manusia, kita perlu belajar untuk melatih kesabaran dalam berproses. Contohnya saat mendapatkan tugas baru dari leader kita, jangan langsung ngebut untuk segera mengerjakan. Pahami betul seperti apa tugasnya, apa ekspektasi dari leader kita tersebut, dan seperti apa lingkup hasil yang diharapkan. Jangan sampai prosesnya nanti jadi back and forth karena banyak salah dan revisinya.

Kesabaran itu bisa dilatih lho! Bagaimana cara melatih kesabaran berproses? Di waktu luang, lakukan aktivitas yang sangat perlu perhatian dan kesabaran kita.  Meditasi dan menulis journal bisa menjadi pilihan. Bahkan untuk meningkatkan kemampuan mindfulness ini, suatu hari saya pernah melatihnya dengan merakit robot Gundam dan membuat sulaman benang. Dua hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Worth to try!

 

Ditulis oleh Paringga Cakra.

Ingga adalah seorang Junior Partner di Daily Meaning. Di waktu luangnya, Ingga gemar membaca buku, fotografi, dan juga mengoleksi pernak-pernik tempo doeloe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *