CN Prof Tak2

Ditulis oleh Alexander Sriewijono.

Siapa yang dulu pernah beli kaset kosong untuk merekam lagu-lagu romantis dan kemudian dikirimkan ke orang yang mau dirayu? Siapa yang dulu suka membawa pekerjaan pulang ke rumah dalam disket hitam atau warna-warni dan ternyata tidak tersentuh selama weekend? Siapa yang dulu punya pager, dan mengirimkan pesan rindunya ke kekasih lewat operator pager?

Saya sebetulnya tidak sedang sensus umur dan zona gaul Anda ada di periode tahun berapa. Namun saya cuma menitipkan pertanyaan:

Seberapa jauh barang-barang tersebut masih ada dan dibutuhkan? Dan pertanyaan yang paling mendasar adalah, orang-orang yang dulu bekerja di perusahaan-perusahaan atau bisnis yang sudah tidak ada lagi tersebut, sekarang ada di mana ya?

Perubahan cepat dalam business environment

Tidak bisa dipungkiri perubahan tidak saja terjadi cepat, tapi juga di mana-mana. Teknologi banyak menjadi faktor utama penggerak perubahan, selain globalisasi yang seakan-akan membuat antar negara sudah tidak berbatas dan letak geografis sudah bukan faktor penghambat lagi.

Strategi menjalankan bisnis juga menjadi sangat berbeda. Uber, perusahaan taxi terbesar di dunia, tidak memiliki armada taksinya sendiri. Airbnb, perusahaan penyedia akomodasi terbesar bahkan tidak memiliki real estatenya sendiri. Facebook, sebagai media terpopuler tidak perlu membuat kontennya sendiri, tetapi justru dari para penggunanya.

Bila bisnis dan organisasi tidak mengikuti perkembangan zaman dengan cepat, kemungkinan untuk terlibas dalam kompetisi akan sangat besar. Sepuluh tahun yang lalu bisnis server dan perawatannya masih sangat menjanjikan, dan hampir semua perusahaan kelas menengah apalagi perusahaan besar pasti membutuhkannya.

Namun dengan munculnya sistem cloud, maka bermunculan dropbox, i-cloud, google drive dan lain-lain yang bisa dimanfaatkan dengan lebih efisien dari sisi biaya. Kodak, yang dulu berjaya, kemudian tenggelam saat terlambat memasuki era digital.

Yahoo, dulu hampir semua orang memiliki alamat e-mail dengan embel-embel @yahoo.com, semakin tertinggal dibandingkan Google dan Alibaba yang sudah lebih jauh dari sekadar penyedia layanan portal atau e-commerce.

Adakah orang yang tak tergantikan?

Bila produk dan organisasi mungkin tergantikan dengan perkembangan zaman dan perubahan-perubahan yang terjadi, bagaimana dengan orang yang menjalankannya? Apakah ada yang bisa dikategorikan sebagai “profesional yang tak tergantikan”?

Pada dasarnya tidak ada yang mutlak saat ini. Kita merasa bisa menjalankan pekerjaan dengan baik, kemudian terjadi akuisisi atau merger, dan kemudian organisasi harus memilih siapa yang tetap di posisi tersebut, dan siapa yang mau tidak mau diminta meninggalkan perusahaan karena tidak mungkin satu posisi yang sama diduduki oleh dua orang.

Atau bila berada di perusahaan multinasional, kemudian head quarter memutuskan untuk menutup bisnis yang di Indonesia karena kondisi perekonomian makro yang terjadi. Atau terjadi perkembangan teknologi yang bisa sangat mengefisienkan proses dan membuat tenaga manusianya tergantikan.

Apa saja mungkin terjadi.

Kecakapan masa depan

Walaupun tidak ada yang mutlak, namun strategi untuk tidak terlibas dengan perubahan yang terjadi dengan cepat ini adalah dengan menjadi “Profesional yang gampang beradaptasi dan lebih proaktif”.

Jangan hanya sekadar melakukan hal yang sama dengan cara yang sama bertahun-tahun.

Apalagi tanpa mempertanyakan apa yang menjadi kebutuhan saat ini dari para stakeholders Anda dan apa yang bisa dilakukan dengan cara berbeda untuk menciptakan progress.

Apakah kita memasukkan rencana untuk belajar hal baru dan naik kelas dalam keseharian kerja kita? Apakah kita menjadi ahli dalam bidang kita dan bukan seperti kebanyakan orang yang hanya sekadar melakukan tugasnya?

Dalam banyak referensi dan hasil riset, ada sejumlah kemampuan yang bisa menjadi modal untuk kita beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah, dan tidak menjadi korban dari perubahan itu sendiri. “kecakapan untuk memecahkan masalah yang kompleks, untuk berpikir kritis, kreativitas, kecakapan dalam manajemen SDM, fleksibilitas kognitif, sikap yang berorientasi pada pelayanan, dan kecerdasan emosional.”

Selamat menjadi “the really adaptable professional” untuk bisa memberikan dampak yang signifikan dari peran kita. Dan dengan demikian lebih tidak mudah tergantikan. Good luck.

Intisari Majalah – September 2016

Image via Shutterstock & Intisari Majalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *