Website Pic 100

Ditulis oleh Alexander Sriewijono.

Pada salah satu perjalanan di Kyoto, saya melihat di etalase sebuah toko kecil, ada mangkok keramik yang indah sekali. Warnanya biru tua, namun ada garis-garis seperti retakan yang berwarna emas. Ternyata itu betul retakan, dan warna emasnya betul adalah logam emas yang diisikan dalam retakan tersebut. Mangkok keramik itu menjadi jauh lebih indah dibanding
mangkok mulus yang masih baru. Harganya bahkan menjadi berkali-kali lipat lebih mahal.

Kemudian saya baru tahu, di Jepang memang ada seni menggabungkan kembali benda pecah belah menjadi satu, dan disebut dengan kintsugi. Kintsugi berasal dari kata kin (emas) dan tsugi (memperbaiki). Saya sangat terkesan akan seni kintsugi ini. Dari kinstugi, kita mendapatkan sejumlah inspirasi bagaimana menerapkan seni ini dalam konteks dunia kerja.

Hargai Yang Pecah

Mangkok yang pecah tidak langsung dibuang, tapi begitu dihargai dalam seni kintsugi. Bagaimana dengan proyek Anda? Begitu gagal, apakah jadi pengalaman buruk ingin segera dilupakan, atau terus diupayakan perbaikannya dengan menjadikan kegagalan itu sebagai pelajaran berharga? Begitu juga dengan anggota tim yang tidak perform. Apakah langsung diminta mengundurkan diri atau dilakukan segala upaya untuk memunculkan kekuatan tersembunyinya?

Tambalan Emas

Keramik yang pecah dalam kintsugi biasanya diisi dengan logam mulia seperti emas. Bukan logam biasa yang kurang berharga. Semangatnya adalah: memberikan yang terbaik dalam upaya perbaikan. Bukan sekadar memperbaiki asal jadi.

Terkait dengan peran kita sebagai pemimpin misalnya, apakah melakukan upaya coaching dan counseling untuk meningkatkan kinerja tim dilakukan dengan setengah-setengah atau dilakukan secara all out?

Seperti seni kintsugi, keramik pecah yang ditambal dengan logam mulia akan membuatnya berkali-kali lipat nilainya. Demikian juga dengan upaya perbaikan tim kita, apakah merefleksikan kualitas kita sebagai “logam” yang mengisi retakan yang terjadi. Apakah kita logam biasa atau kita logam mulia yang menambah nilai pada retakan yang ada?

Bekas luka

Mangkok pecah yang telah diperbaiki retakannya dengan logam mulia terlihat sangat indah dalam seni kintsugi. Bagaimana dengan retakan-retakan dalam perjalanan karier kita?

Kita yang sekarang adalah kita yang telah mengalami begitu banyak kejadian dalam perjalanan karier kita, baik yang enak maupun tidak.

Seberapa jauh “luka-luka” yang ada justru membuat kita terlihat semakin tangguh, semakin matang, semakin bijaksana? Ataukah “luka-luka” tersebut membuat kita semakin terpuruk dan menjadikan kita me-rasa seperti makhluk yang paling dikasihani?

Mengapa tidak segera menerapkan kintsugi dalam karier kita? Jadikan pecahan atau retakan yang terjadi sebagai kesempatan untuk membuat hidup kita lebih indah.

Intisari Majalah – Agustus 2018

Image via Shutterstock & Intisari Majalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *