Website Pic 100

By ALEXANDER SRIEWIJONO

Ide artikel ini diawali dari “menguping” secara tidak sengaja pembicaraan dua perempuan di ruang tunggu bandara. Mereka berdebat soal kriteria suami masa depan mereka. Yang satu bilang harus kaya, karena jaman sekarang tidak akan bisa apa-apa tanpa uang, katanya. Sementara yang satunya bilang, bukan seberapa kayanya pria itu saat ini, tapi dia mementingkan apakah pria itu punya kemampuan untuk menjadi kaya.

Alasannya sederhana, katanya, kalau pria itu dan keluarganya bangkrut, bisakah ia menjadi kaya lagi kalau tidak punya kemampuan menjadi kaya. Apa yang diobrolkan buat saya sangat make sense dan juga relevan untuk ditarik ke masalah karier.

To Have More vs To Be More

Dalam banyak situasi, saat kita diminta untuk mengerjakan sesuatu yang lebih banyak, sering kali yang terlebih dahulu muncul di pikiran adalah: saya dapat lebih apa enggak? Apakah saya mendapat uang lemburan? Apakah saya mendapat bonus tambahan? Apakah saya akan dipromosikan?

Padahal kenyataannya, hal-hal yang “mungkin akan didapat” itu, kontrolnya tidak pada diri kita.

Jadi apakah tetap kita kerjakan atau tidak bila kondisinya tidak pasti seperti itu? Hal-hal yang kontrolnya lebih ada pada diri kita adalah dengan mengerjakan sesuatu yang lebih banyak, kita juga akan “menjadi lebih”.

Saat pekerjaan menumpuk banyak, kita akan terdorong untuk lebih bisa menentukan prioritas kerja dan manajemen waktu. Saat kita mendapatkan tugas baru yang tidak mudah, kita akan lebih banyak belajar dan mencari cara untuk menaklukkan tantangannya. Saat atasan sangat tinggi standarnya, kita akan lebih menantang diri kita juga untuk tidak memberikan sesuatu yang sekadarnya.

Yang terjadi dalam proses “menjadi lebih” sebetulnya adalah upaya untuk memperkuat kredibilitas diri kita. Bila kualitas diri kita meningkat, seyogyanya “harga” akan mengikuti dengan sendirinya.

Permanen vs Tidak Permanen

Kekayaan yang bersifat materi seperti gaji, bonus, fasilitas, dan tunjangan di tempat kerja bisa dikatakan tidak permanen.

Saat perusahaan misalkan bangkrut karena kondisi perekonomian makro atau karena kondisi internal perusahaan, Anda akan kehilangan pekerjaan. Tingkat “kekayaan” Anda saat itu bisa terpengaruh.

Namun kredibilitas diri yang telah dikembangkan selama ini saat melakukan yang terbaik untuk pengembangan kualitas diri akan melekat secara permanen di dalam diri Anda. Cara berpikir, sikap kerja, kemampuan diri yang telah Anda naikkan kelasnya tidak bisa dihilangkan oleh kondisi eksternal begitu saja.

Mendapatkan vs Mengelola

Mendapatkan warisan itu patut disyukuri. Tapi kalau tidak pintar-pintar mengelolanya, ya cepat atau lambat akan habis, apalagi kalau dikelola dengan cara yang salah.

Dipromosikan, naik jabatan, dan mendapatkan gaji lebih juga tentunya menyenangkan. Tapi kalau tidak dibarengi dengan pembuktian ke-keren-an diri dalam “mengelola peran dan tanggung jawab” yang diberikan, bukan tidak mungkin kita dimutasikan, dinonaktifkan, atau bahkan dipersilakan dengan hormat meninggalkan perusahaan.

Layaknya pajak penghasilan, semakin tinggi besar penghasilan, semakin besar pula pajaknya.

Jadi bukan sekadar punya posisi tinggi dan gaji besar, tapi apakah juga dibarengi impact yang bisa diberikan dari peran yang dimiliki.

Selamat memperkaya diri, bukan sekadar mengejar kekayaan. Enjoy the journey!

Artikel ini diterbitkan di majalah Intisari edisi Januari 2016