Home / Blog / Dialogues (tv/radio/published) / Cross the Borderline

03
Jan
Cross the Borderline
  • 79 Views
  • 0 Comment
  • articles . CosmoCareer . dialogues .

Setiap manusia lahir dalam keluarga. Terlepas dari keluarga yang lengkap, hanya ada ibu atau ayah atau dibesarkan dalam keluarga angkat, setiap orang memiliki keluarga. Dalam perkembangannya, masing-masing anggota keluarga akan menyerap kebiasaan, budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga tersebut. Berkembang lagi dengan pengaruh dari lingkungan luar (pertemanan, sekolah, lingkungan kantor, dan seterusnya). Masing-masing kemudian membentuk borderline dalam diri seseorang baik secara personal maupun pada nilai kelompok dimana dia bergabung.

Topik borderline ini dibahas oleh Cosmopolitan 90.4FM beberapa waktu lalu dalam sesi #CosmopolitanCareer yang menerima tanggapan dari para Cosmoner tentang border line mereka, diantaranya:

“tidak membagi pin BB pribadi, akun FB dan Twitter terutama kepada bos. #borderline” dan juga kryawan :p” (@fisherry)

“If u have concern at work, talk to your boss. Don’t twit it or put on FB. Won’t solve the problem, might even create one.”(@niekegarnia)

“di kantor ada kesepakatan tdk tertulis u/ tdk becanda yg menyangkut Ortu & marga.Maklum batak semua,Sensitif euy #borderline(@putri_CSM)

Menariknya, border line itu bisa berupa hal yang pribadi, identitas kelompok (i.e, suku) yang seperti tali lentur batas kenyamanan kita sebagai individu maupun kelompok yang bersinggungan dengan banyak hal. Dalam hal tertentu kita masih merasa nyaman jika seseorang mendorong tali tersebut. Tetapi di kondisi lain, tali tersebut dapat putus dan menyinggung nilai ataupun budaya yang kita miliki.

Then what?

Hidup itu setidaknya memiliki dua sisi yang seringnya hanya dipandang dari satu sisi oleh kita. Seperti yang di mention oleh salah seorang Cosmoner diatas jika kita memiliki isu dengan rekan kerja, tidak menyelesaikan masalah jika dipublish di social network. Sisi pertama, rekan kerja kita itu mungkin memang telah melanggar borderline kita. Sisi kedua, menyebarluaskan perbuatan rekan kerja tersebut menempatkan kita dalam kursi yang sama dengannya, sebagai pelaku pelanggar borderline. Akhirnya menyelesaikan masalah? Tepatnya menambah masalah iya.

Belajar untuk memahami situasi yang terjadi dari sudut pandangnya dan jujur dalam menilai diri sendiri bisa menjadi solusi pertama sebelum kita memutuskan sesuatu untuk menyelesaikan isu tersebut. Ada banyak cara yang smart untuk menyelesaikan permasalahan yang kita alami. Ingat peribahasa banyak jalan menuju ke Roma?

Memperhatikan value dari rekan kerja, pasangan, teman juga akan membantu kita merasa nyaman dalam menjaga borderline masing-masing. Hubungan timbal balik masih berlaku. Saat kita membuat orang lain merasa nyaman dengan diri kita, kita pun akan merasa nyaman dengan orang tersebut.

Sebagai penutup, saya ingin merasa optimis memandang dunia 5 – 10 tahun mendatang dengan memandang hari ini lebih banyak orang-orang yang menghargai dan menjaga borderline dalam berhubungan. Impactful synergy yang membuat lebih banyak orang merasa hidup yang lebih nyaman, keluarga yang lebih harmonis, kondisi kerja yang menyenangkan dan akhirnya gambaran dunia yang lebih indah.

Take the chance and we’ll see a better world, soon.

Happy New Year 2012! 😉

love,

is

0 COMMENTS
LEAVE A COMMENT