Home / Blog / A Work in Progress

12
Oct
A Work in Progress
  • 95 Views
  • 0 Comment
  • articles . managing career .

Dalam suatu diskusi dengan seorang teman mengenai keinginannya untuk menjadi fresh graduate yang percaya diri dan mampu bersaing dengan lainnya, perasaan yang dirasa menghambat keinginannya adalah rasa rendah diri, padahal ia tergolong orang yang perfeksionis. Membuat kita jadi bertanya-tanya, bagaimana bisa seseorang yang perfeksionis, yang menginginkan segala sesuatunya perfect, sering merasa rendah diri?

Mari kita coba mengingat keseharian kita, pernahkah kita merasa minder saat ditunjuk secara spontan untuk menjelaskan suatu hal dalam meeting dan akhirnya kita memilih untuk tidak menjawab karena merasa tidak melakukan persiapan matang padahal kita sebenarnya mengetahui jawabannya? Atau saat pernikahan saudara dan kita diminta secara spontan untuk bernyanyi karena suara kita tergolong bagus, namun kita merasa tidak percaya diri karena belum pernah latihan dengan band pengiring lagu sehingga akhirnya kita menolak permintaan tersebut?

Keinginan untuk melakukan segala hal dengan perfect terkadang terasa melelahkan, terutama apabila akhirnya membatasi diri kita untuk bergerak, berekspresi, karena rasa takut bahwa hasilnya tidak akan maksimal. Kita hanya berani dan merasa percaya diri saat berada di dalam situasi yang sudah kita rencanakan dengan matang, atau pada situasi yang menuntut kemampuan yang sudah kita kuasai dengan baik. Apabila kita melakukan kesalahan, porsi terbesar adalah menyalahkan diri sendiri.

Lalu bagaimana dengan situasi-situasi tidak terduga lainnya, dimana justru kesempatan-kesempatan once in a lifetime datang menghampiri kita?  Bagaimana kalau ternyata saat pernikahan saudara kita ada pemilik studio rekaman yang melihat dan tertarik dengan suara kita? Atau saat meeting tersebut ternyata salah satu pimpinan perusahaan menyukai cara berpikir kita sehingga menaikkan jabatan kita? Peluang besar ada di depan mata, namun kita tidak mendapatkannya karena kita merasa tidak siap untuk mencoba.

Rasa takut untuk mencoba sering sekali terjadi dalam kehidupan kita, seperti saat kita ingin melamar ke suatu perusahaan, namun tidak jadi kita lakukan saat mengetahui hampir semua pegawai yang bekerja di sana lulusan luar negeri  sedangkan kita lulusan universitas lokal. Atau saat kita mendadak diminta untuk menggantikan teman kita ikut meeting di project yang sebenarnya juga kita kuasai, namun karena mendadak kita merasa tidak siap dan takut melakukan kesalahan.

Rasa takut atau tidak percaya diri karena persiapan yang belum matang atau merasa minder akan terus berulang, karena di dalam hidup banyak situasi yang tidak bisa kita prediksi atau rencanakan. Pilihannya hanya dua, yaitu fight atau flight. Kita mau menghadapinya atau kita memilih lari darinya. Ada situasi dimana kita harus dan dapat mempersiapkan diri secara matang, seperti saat akan mengikuti ujian. Namun banyak situasi lainnya yang tidak dapat kita prediksi atau saat kita dituntut untuk dapat berpikir dan bekerja cepat, seperti saat melamar kerja atau saat kita mendapatkan kesempatan untuk memegang suatu project. Sedangkan, apabila kita bersikap perfeksionis, kita akan cenderung untuk bekerja secara prokrastinasi  yaitu kita membereskan hal-hal detail yang kurang penting, baru setelah itu mengerjakan hal yang sebenarnya memiliki skala prioritas paling penting. Contohnya adalah saat kita harus belajar untuk ujian, kita membereskan meja kamar dahulu, lalu membereskan meja belajar, dan baru mulai belajar setelah semuanya rapi sehingga waktu belajarnya hanya tersisa sebentar. Saat kita harus mengerjakan suatu report pekerjaan, dan ternyata file-file di computer kita masih berantakan sehingga kita memilih untuk merapikan file-file tersebut baru mengerjakan report, dengan dalih “supaya saya lebih gampang kerjanya”. Atau saat kita harus membuat presentasi namun kita sibuk memilih desain slide Power Point yang paling keren dan baru mengerjakan isi presentasinya belakangan. Alhasil waktu untuk mengerjakan menjadi jauh berkurang.

Step awal dalam menghadapi perfeksionisme adalah dengan menyadari bahwa kita tidak harus selalu sempurna dalam setiap situasi dan kondisi. Sikap perfeksionis yang dimiliki merupakan cerminan dari keinginan kita untuk melakukan segala sesuatu dengan benar, sesuai yang seharusnya. Hal ini merupakan modal yang baik untuk dimiliki setiap individu, dan tentunya harus disertai dengan toleransi terhadap diri sendiri. Kita sebagai manusia, tidak mungkin sempurna, kita pasti melakukan kesalahan.

Step kedua adalah memberikan toleransi kepada diri sendiri. Saat kita tidak terfokus pada rasa marah atau kecewa pada diri sendiri dan lebih berfokus pada solusi dari kesalahan tersebut, kita dapat mengambil pelajaran berharga sehingga kita tidak terjerumus dalam kesalahan yang sama, dan bahkan bisa share pengalaman kepada orang lain.  Itulah proses belajar, itulah proses hidup yang sesungguhnya. Belajar dari kesalahan kita sendiri, belajar dari kesalahan orang lain, akan membuat kita menjadi manusia berkembang. Apabila sejak lahir kita sudah bisa berdiri dan berjalan, semua orang akan takut dan menganggap kita makhluk abnormal, karena itu prosesnya adalah tengkurap, merangkak, duduk, berdiri, baru berjalan. Saat sudah bisa berdiri, kita terjatuh berkali-kali saat belajar berjalan. Sama seperti hidup kita, akan ada pengalaman “terjatuh” untuk mendapatkan berbagai pengalaman dan menjadi pribadi yang kuat. Kita adalah pribadi yang unik, karena itu step ketiga adalah kita harus belajar untuk mencintai diri kita sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki.

Apabila kita memberikan toleransi kepada diri kita, bukan berarti kita menjadi orang yang lemah, atau malas, atau tidak memiliki ambisi. Ruang toleransi yang kita berikan adalah saat kita bisa belajar dari suatu kejadian, dan tidak mengulanginya lagi. Apabila kita bisa memprediksi akan terjadi suatu kesalahan dan kita bisa menghindarinya, maka hindarilah. Namun apabila kita sudah berusaha sebaik yang kita bisa dan ternyata masih ada kesalahan, belajarlah dari hal-hal tersebut.

Step keempat adalah dengan berpikir positif. Kebanyakan orang secara tidak sadar cenderung berfokus pada kekurangan apa yang masih ia miliki, masalah apa yang akan ia hadapi, dan hal-hal lain yang memiliki sudut pandang negative sehingga menimbulkan perasaan minder, cemas, takut, skeptis, pesimis, dan lainnya.

Mari kita putar sudut pandang dalam melihat berbagai hal, fokusnya pada asset-asset yang dimiliki dalam setiap situasi. Saat kita melamar kerja ke kantor yang berisi lulusan luar negeri sedangkan kita lulusan lokal, namun kita memiliki modal bisa berbahasa Inggris dan memiliki motivasi ingin belajar dan bekerja dengan sebaik-baiknya. Yang menjadi asset kita adalah kedua hal tersebut, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencoba melamar kesana. Atau saat pentas seni kampus, ternyata band pengisi acara mendadak tidak bisa datang sedangkan yang ada hanyalah beberapa mahasiswa yang memiliki suara bagus dan juga band kampus yang walaupun bagus namun belum terkenal. Aset dalam situasi tersebut adalah menampilkan band kampus dan mahasiswa-mahasiswa agar acara tetap berjalan.

Berfokus pada kekuatan atau kelebihan, talent, possibilities yang kita dapatkan dalam situasi tersebut. Dengan itu, power untuk menghadapi situasi akan kembali kita pegang. Berfokus pada hal-hal terbaik yang dimiliki oleh kita dan orang lain, dan hal-hal terbaik yang dapat kita ambil dari suatu situasi. Kemudian berfokus pada langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya dalam menghadapi situasi tersebut.

Mari kita lupakan sejenak mengenai bayangan yang perfect dan ideal, lalu lihatlah diri kita sebagai “a work in progress”. Kita memiliki berbagai kelebihan dan kekuatan, namun tidak lupa juga bahwa kita masih berkembang dan selalu dalam proses belajar.

Tumbuhkan komitmen untuk mengusahakan yang terbaik dari diri kita, dan tetap menyisakan ruang untuk pembelajaran baru. Setiap kali rasa takut atau cemas itu muncul, ingatlah bahwa your glass is half full, not half empty.

Have a great journey ahead

-Bernadetta Anjani

0 COMMENTS
LEAVE A COMMENT