Home / Blog / Ngupil Yuk!

03
Jan
Ngupil Yuk!
Ngupil Yuk!
  • 76 Views
  • 0 Comment
  • articles .

Seorang teman merasa dizolimi oleh judgement semena-mena orang yang celakanya dirasanya punya power lebih.

Sejumlah pertanyaan singkat yang diajukannya lewat kotak chat di era social media revolution ini menghasilkan spontanitas dalam menjawab, yang juga saya tujukan buat diri sendiri.

  • “Perlukah saya buktikan bahwa judgementnya salah Mas?”
  • “Jadi itu semua itu pilihan?”
  • “Life is tough ya mas?”

Lontaran #1: “Perlukah saya buktikan bahwa judgementnya salah Mas?”

Tergantung pada seberapa banyak enerji yang dimiliki di dua mangkok, yaitu mangkok enerji akal dan mangkok enerji hati!

Saya tidak bilang seberapa mampu kita berpikir, tapi seberapa kita mau memikirkan, memilah, memutuskan, dan ambil konsekuensi dari tindakan kita.

Dan itu membutuhkan enerji, baik akal maupun hati.

Keputusan untuk “melakukan tindak pembuktian diri”, berada di tengah proses, di antara mengapa perlu membuktikan diri, bagaimana melakukannya dan apa konsekuensinya. Bila keputusan akhirnya tetap melakukan, good!

Bila keputusan akhirnya tidak jadi melakukan, good juga! Apapun yang diputuskan sah-sah saja, toh ini hidup kita, selama sudah dipikirkan baik-baik semuanya.

Memutuskan untuk ‘tidak’ adalah juga sebuah keputusan. Tapi jalan di tempat, ‘bundet’ terus dan ujung-ujungnya bilang ‘ga tau ah!’, itulah yang namanya berproses yang belum tuntas.

Nggak ‘dosa’ sih, mungkin karena mangkok enerjinya saja yang lagi nyaris kering. Tapi kalau level enerjinya optimal, bahkan melimpah seperti penanda ketinggian air di pintu air Katulampa saat musim banjir, ya janganlah. Think and decide.

Lontaran #2: “Jadi itu semua itu pilihan?”

Iya, soalnya sumber enerji kita memang tidak ‘tak terbatas’, alias ada limitnya bak limit kartu kredit yang nanggung. Di bilang kurang ya nggak, di bilang berlebih ya nggak juga.

Contoh nyata. Mau berangkat kerja, melirik kap mobil kok berbercak putih layaknya penanda mini UFO telah mendarat di sana. Bercak itu baru dan permanen. Asumsi terkuat sebagai hasil dari proses pencarian data visual yang ada di kepala, kemungkinan besar kemarin ‘UFO’nya adalah tampah bambu berisi krupuk yang sedang dijemur. Kelembaban dan proses penjemuran di terik matahari itulah yang meninggalkan bercak putih dengan diameter 30cm.

Jujur, miris.

Berpikir cepat, apa yang saya pilih untuk harus saya lakukan di saat itu.

Bedakan dengan pertanyaan: apa yang harus saya lakukan untuk menyelesaikan masalah di saat itu juga.

Yang paling membuatnya beda adalah karena hidup tidak hanya berisi satu masalah dan enerji kita tidak unlimited.

Dua jam dari saat penemuan ‘bercak pendaratan UFO’ itu saya akan mengajar, dan setelah itu masih ada marathon meeting. Untuk melaksanakan itu semua saja enerjinya ngepas banget.

Yo wes, pilihan saya adalah menarik nafas panjang, menyampaikan kalimat singkat tanpa enerji berlebih kepada perwakilan duta rumah tangga dengan berpegang pada asas praduga tak bersalah (“tidak boleh menjemur apapun di atas kap mobil ya…”), menarik nafas panjang lagi, dan masuk mobil.

Itu pilihan saya, yang menurut saya memang yang terbaik di saat itu, karena hari itu agenda utamanya memang bukan persidangan ‘tipikrup’ – tindak pidana krupuk.

Lagi pula saya juga mempertanyakan enerji yang akan saya ambil dari mangkuk akal dan hati bila memang persidangan akan dilakukan di saat yang lebih tepat.

Akankah terjadi pemecatan? Pilihan saya, tidak (Enerji hati terambil 10 ton beban, 65 tarikan nafas panjang. Enerji akal terpakai: 5 kerutan dahi untuk mikir pesangon yang adil).

Akankah terjadi pemotongan gaji? Pilihan saya, tidak (enerji hati

terambil: 9 ton beban dan 50 tarikan nafas panjang. Enerji akal terpakai:

4 kerutan dahi, mau dipotong piro tho yo?)

Akankah terjadi pelarangan makan krupuk di rumah selamanya? (Enerji hati

terambil: 2 ton beban karena menyesal kok ya ekstrim banget dan anak-anak kan suka krupuk. Enerji akal terpakai: 2 kerutan dahi, memangnya ga ada cara lain?)

Akankah terjadi pemanggilan tim pengurus rumah tangga? Mungkin iya di waktu yang tepat (Enerji hati: tanpa beban, dengan agenda yang jelas.

Enerji akal: 3 kerutan, untuk bisa ngomong yang jelas dan berorientasi tidak terjadi kesalahan yang sama atau serupa di kemudian hari).

Jadi memang hidup adalah pilihan.

Jujur, sudah tidak semiris sebelumnya.

Lontaran #3: “life is tough ya mas?”

Maybe, maybe yes, maybe not.

Balik ke soal pembuktian diri tadi. Kalau memang memilih untuk membuktikan diri, kemudian berhasil dibuktikan bahwa kita tidak demikian adanya, tapi tetap nggak happy, terus bagaimana? Merasa benar dan dianggap benar adalah dua hal yang beda. Seharusnya bahagia tapi ternyata tidak bahagia juga menunjukkan bahwa hidup bukanlah pembuktian hitung-hitungan matematika.

Memilih untuk tidak membuktikan diri juga bisa bikin happy, karena mampu memilih dan memutuskan bahwa hal itu tidak penting. Ikhlas yang tidak ngeganjel di hati.

Sama seperti mempertanyakan: sukses dulu baru bisa bahagia atau dengan bahagia kita bisa mencapai banyak hal. Kriteria kesuksesannya juga relatif.

Pembuktian akan membuat bahagia? Atau dengan bahagia pembuktian sudah menjadi tidak perlu lagi.

Jadi hidup bisa saja bukan pembuktian. Pembuktian untuk apa, oleh siapa, dan kepada siapa.

Buat saya, hidup memang bukan pembuktian. Itu pilihan saya, yang saya sadari tidak berimplikasi pada penyedotan enerji akal dan hati yang tidak perlu. Enerji yang saya keluarkan betul-betul saya hitung, karena masih banyaknya hal yang perlu dan ingin saya lakukan.

Hidup lebih seperti bernafas, dan yang perlu dilakukan adalah bernafas yang bener, ngupil yang santun buat bersihkan rongga hidung tanpa biking orang terganggu, ngetrim bulu hidung teratur tapi juga jangan dibabat habis karena masih perlu buat nyaring udara.

Dan yang penting, kalau tarik nafas jangan lupa buang nafas. Bukan karena masalah muka ungu terus almarhum, tapi karena udarapun dipinjamkan.

Udara bukan milik kita, tapi bagian dari semesta. Syukuri nikmatnya, ikhlaskan saat melepaskannya.

Supaya lebih legaan bernafasnya, ngupil dulu yuk.

by: Alexander Sriewijono
twitter: @alexsriewijono

0 COMMENTS
LEAVE A COMMENT