Home / Blog / Memakai ‘Topeng’ Di Kantor (cont’d)

25
Feb
Memakai ‘Topeng’ Di Kantor (cont’d)
Memakai ‘Topeng’ Di Kantor (cont’d)
  • 79 Views
  • 0 Comment
  • articles .

Banyak orang terlihat memiliki banyak kepribadian berbeda, terutama ketika mereka bergaul dengan orang dalam komunitas tertentu. Sebagai contoh adalah ketika berbicara dengan teman atau sahabat, akan berbeda saat berbicara dengan teman kerja, bos, ataupun bawahan. Dalam pembelaannya, orang-orang seperti ini mengatakan bahwa mereka melakukan itu karena untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan demi kepentingan profesional kerja. Tetapi untuk orang orang yang skeptic, mereka beranggapan bahwa mereka menggunakan banyak ‘topeng’ berbeda untuk mencari muka dan tidak menunjukkan diri mereka yang sebenarnya.

Benarkah manusia membutuhkan topeng untuk menjalani hidupnya? Jika kita lihat ke belakang, berapa banyak topeng yang telah kita kenakan selama hidup kita? Dimulai dengan topeng yang kita kenakan ketika bersama teman-teman sekolah atau kuliah, topeng ketika bertemu dengan gebetan ataupun pacar, topeng ketika dengan atasan dan rekan kerja, ataupun topeng yang kita ciptakan di dunia maya (media sosial). Sepenting itukah topeng bagi manusia?

Manusia memang terkadang membutuhkan topeng dalam kehidupan sehari-harinya. Sebagai contoh adalah ketika seorang atasan mendapatkan berita bahwa deadline dari suatu proyek besar dimajukan beberapa minggu. Maka ia berusaha mengenakan topeng yang membuatnya tetap tenang dihadapan anak buahnya, agar tidak menimbulkan tekanan baru. Hal lainnya adalah ketika seorang ibu jatuh sakit ketika anaknya akan tampil di pentas seni sekolah. Sang Ibu mengenakan topeng seakan-akan ia dalam kondisi sehat dan bersemangat untuk melihat penampilan anaknya. Hal tersebut ia lakukan agar tidak mempengaruhi ‘mood’ anaknya ketika tampil diatas panggung. Topeng seperti ini, atau Lady Gaga menyebutnya dengan “Poker Face”, terkadang dibutuhkan pada situasi-situasi tertentu, dengan tujuan agar tidak memperburuk keadaan.

Setiap orang sebenarnya memiliki ‘gradasi warna’-nya sendiri, yang menunjukkan karakter dan kepribadian yang asli. Melalui gradasi warna ini, setiap orang dapat memilih ingin berada pada bagian yang mana, sesuai dengan situasi yang dihadapi. Orang dengan ‘gradasi warna’ merah, ketika diharuskan memimpin rapat, ia menempatkan dirinya menjadi merah maroon, sedangkan ketika kumpul bersama keluarga, ia menempatkan dirinya menjaid merah muda. Hal yang terpenting adalah dengan tetap berada di ‘gradasi warnanya’, berarti ia tetap menjadi dirinya sendiri dengan variasi yang berbeda-beda. Namun jika ia sudah beralih ke warna lain di luar ‘gradasi warna’nya, itulah yang dinamakan dengan ‘fake’.

Jika tidak suka menyebutnya dengan topeng karena terkesan menutupi diri kita yang sebenarnya, kita bisa menggunakan istilah “topi”. Dimana dengan menggunakan topi, wajah kita dapat tetap terlihat, yang berarti juga ‘warna asli’ atau kepribadian kita masih dapat terlihat. Namun, kita dapat mengenakan topi yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang kita hadapi. Sebagai contoh, dalam situasi formal dengan klien, kita dapat menggunakan topi merah, dimana dengan mengenakan topi ini kita akan berbicara lebih formal, menunjukkan profesionalitas serta kematangan berpikir kita. Sedangkan dalam berhubungan dengan rekan kerja dapat mengenakan topi kuning, yang berarti kita dapat berbicara dengan lebih menggunakan bahasa sehari-hari, menertawakan hal lucu bersama, dan diskusi santai masalah pekerjaan. Ketika dengan sahabat bahkan sangat memungkinkan kita tidak perlu menggunakan topi sama sekali. Sehingga, topi dapat diartikan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri dalam berpikir dan bertingkah laku, sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu, namun tetap dengan menjadi diri kita sendiri. Fleksibilitas mungkin adalah kata yang tepat untuk dijadikan sebagai kunci dalam pembahasan ini.

** dari diskusi CosmoCareer @CosmopolitanFM tentang “Memakai ‘Topeng’ Di Kantor

0 COMMENTS
LEAVE A COMMENT