Home / Blog / Jangan langsung buang ballpoint

17
Jan
Jangan langsung buang ballpoint
Jangan langsung buang ballpoint
  • 76 Views
  • 0 Comment
  • articles .

Walau peduli lingkungan, tapi ini bukan a kind of ‘go green‘ notes.

Setiap kali selesai mengajar di ruang-ruang yang menyediakan ballpoint & notes berjumlah halaman nanggung (hehehe), ballpoint-ballpoint yang ditinggalkan oleh peserta biasanya saya kumpulkan dan saya pakai kembali atau saya hand-overkan buat yang butuh. Bukan karena kikir atau ga mau rugi, tapi rasanya sayang saja kodrat ballpoint-ballpoint itu hanya berumur sehari-dua, dan tintanya baru terpakai sedikit.

Di buku-buku business dressing & professional manner, konon katanya dosa besar bagi professional untuk menggunakan ballpoint sekali buang di hadapan mitra bisnis karena tidak menunjukkan ‘kelasnya’. Saya mem’balelo’kan diri bila itu dianggap sebagai hukum wajib, mungkin karena saya memang tidak berkelas hehehe, atau saya tidak buy in dengan reason di balik statement tersebut.

Anyway, ballpoint-ballpoint sekali buang itu selalu saya perpanjang kodrat pengabdiannya hingga gurat tinta terakhir. Kemarin saat satu ballpoint hendak saya buang karena sudah almarhum, tiba-tiba terlintas pertanyaan

‘sederhana’: “ballpoint ini sudah saya pakai buat apa saja ya…?

Pikir punya pikir, saya mulai bisa menyebutkan beberapa diantaranya; tandatangan dokumen kantor, mencatat point-point meeting dengan klien, mereview draft kerjaannya team, corat-coret ga jelas tapi seru sama si kecil Kay, dan nulis notes untuk gurunya si sulung Zoe di kertas PRnya.

Sejauh ini sih untuk kodrat si ballpoint yang akan saya buang itu, terisi dengan hal-hal yang penting dan bermanfaat.

Mudah-mudahan si ballpoint bisa rest in peace di peristirahatan terakhirnya karena tintanya tidak saya pakai untuk tanda tangan dokumen illegal, atau menuliskan kata-kata bodoh ga jelas, hujatan-hujatan kasar, atau bahkan gambar-gambar jorok hehehe. Paling tidak (mudah-mudahan) saya bisa jadi ‘tuannya’ si ballpoint yang ga akan diomongin di nerakanya para ballpoint.

Kalau si ballpoint tidak punya kontrol atas guratan-guratan tinta yang ditorehkan pemakainya, tidak demikian dengan hidup dan hari-hari kita.

Sempatkan waktu sejenak saat hari sudah akan habis berganti, untuk berpikir, sama seperti ketika akan membuang ballpoint yang sudah habis.

Hari ini sudah diisi dengan apa saja ya….

by: Alexander Sriewijono
twitter: @alexsriewijono

0 COMMENTS
LEAVE A COMMENT