(please click the picture to enlarge)
Bisnis berkembang dalam pattern normal, itu hal yang ‘ordinary’. Di sisi lain, (sedikit) bisnis berkembang dengan peningkatan secara tajam, ini disebut ‘extra-ordinary’. Dalam keseharian, kita pun menemukan banyak orang-orang ‘biasa’ dengan aktivitas keseharian mereka dan menemukan sedikit yang membuat kita kagum akan pekerjaan atau kepribadian mereka.
Apa yang membuat terjadi perbedaan antara ‘ordinary’ dan ‘extra-ordinary’? Pertanyaan yang menarik untuk dipikirkan di bulan kedua tahun 2012 ini. Salah satu buku yang membahas hal ini ditulis oleh Malcolm Gladwell “Tipping Point” yang memberikan insight bagaimana hal-hal kecil berhasil membuat perubahan besar.
Ide dasar dari buku ini merupakan thinking process dari fenomena yang menjadi epidemi di masyarakat. Sekelompok kecil anak muda yang memakai sepatu karena ingin terlihat beda kemudian mempengaruhi peningkatan secara ekstrem berpuluh kali lipat penjualan Hush Puppies, secara global. Setelah berbagai upaya dilakukan untuk meredam tingkat kejahatan, melalui kebijakan penertiban vandalism di stasiun kereta api berhasil menurunkan tingkat kejahatan secara menyeluruh. Dan fenomena-fenomena menarik lainnya yang membuat kita berpikir, bagaimana perubahan yang epidemik tersebut terjadi?
What comes in your mind when you first hear the word ‘Daily Meaning’?
Are you thinking of a bread store or newspaper or maybe something else?
Well, actually we enjoy every moment explaining the meaning of our company’s name to everyone who ask, because the name itself represent the value that every member of our company believes and lives in.
So, once someone describe us through her writing, it’s totally AWESOME! Annisa, the writer, wrote a very beautiful and charming article how she saw and felt our values through a casual but insightful conversation last Desember.
Enjoy the article from Annisa Dharma, Contributor of Kemang Buzz (published on January 2012). (more…)
Menjelang akhir bulan Januari, masihkah ingat dengan resolusi tahun 2012 yang dibuat? Hal-hal yang ingin dicapai, baik yang sederhana sampai yang kompleks, mempertimbangkan Wants VS Needs.
Tulisan Mas Alexander Sriewijono di Wonderful Life magazine berikut ini sebagai catatan di akhir bulan pertama tahun ini. “Resolusi harus punya nyawa yang Anda yakini, sebagai satu alasan yang kuat untuk Anda perjuangkan pencapaiannya”
Enjoy the article! Keep up the spirit of wonderful journey this year. (more…)
Setiap manusia lahir dalam keluarga. Terlepas dari keluarga yang lengkap, hanya ada ibu atau ayah atau dibesarkan dalam keluarga angkat, setiap orang memiliki keluarga. Dalam perkembangannya, masing-masing anggota keluarga akan menyerap kebiasaan, budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga tersebut. Berkembang lagi dengan pengaruh dari lingkungan luar (pertemanan, sekolah, lingkungan kantor, dan seterusnya). Masing-masing kemudian membentuk borderline dalam diri seseorang baik secara personal maupun pada nilai kelompok dimana dia bergabung.
Topik borderline ini dibahas oleh Cosmopolitan 90.4FM beberapa waktu lalu dalam sesi #CosmopolitanCareer yang menerima tanggapan dari para Cosmoner tentang border line mereka, diantaranya:
“tidak membagi pin BB pribadi, akun FB dan Twitter terutama kepada bos. #borderline” dan juga kryawan :p” (@fisherry)
“If u have concern at work, talk to your boss. Don’t twit it or put on FB. Won’t solve the problem, might even create one.”(@niekegarnia)
“di kantor ada kesepakatan tdk tertulis u/ tdk becanda yg menyangkut Ortu & marga.Maklum batak semua,Sensitif euy #borderline”(@putri_CSM) (more…)
Awal tahun 2010, pertama kali secara serius saya memikirkan untuk keluar dari pekerjaan. Ceritanya waktu itu karena merasa tidak berkembang di karir, komunikasi dengan atasan tidak harmonis lagi dan alasan lainnya. Suatu hari masih di tahun yang sama, dalam kondisi emosi tingkat tinggi saya melapor ke bagian HRD akan resign dalam waktu dekat. Info yang sama saya sebarkan ke teman-teman terdekat juga. Dampaknya, salah satu teman saya keluar dari pekerjaannya dan saya dipanggil kepala HRD untuk berdamai dengan atasan saya. Saya tidak jadi resign pada akhirnya di tahun itu.
Teman saya yang berhenti bekerja itu dulunya adalah seorang Research Executive dengan karir yang cemerlang tetapi waktu bersama keluarga (dia baru saja memiliki bayi) terasa semakin berkurang. Di sisi lain, pilihannya untuk terus berkarir dalam menunjang keuangan keluarga.
Hal yang sama mungkin terjadi bagi sebagian orang, dilema antara keinginan untuk keluar dari pekerjaan dengan berbagai situasi seperti merasa prinsip pribadi yang berbeda dengan perusahaan, jenjang karir yang tidak berkembang seperti diharapkan, peluang berbisnis sendiri, family reason (pasangan ingin kita berhenti bekerja sampai keinginan untuk mendapatkan keturunan) yang dibandingkan dengan benefits yang diterima plus tidak ada jaminan diluar dunia pekerjaan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Topik ‘Quit from your job’ ini dibahas oleh radio Cosmopolitan 90.4 FM beberapa waktu lalu dengan nara sumber Mas Alexander Sriewijono dan Andika Pradipta. Hal pertama yang terlontar adalah bukan KAPAN tetapi MENGAPA kita mau keluar dari pekerjaan. Berkaitan erat dengan apa yang menjadi target dan prioritas dalam fase kehidupan sekarang ini. (more…)
IBM baru saja merilis 2010 CEO global berdasarkan studi tatap muka dilakukan wawancara dengan lebih dari 1.500 CEO mencakup 60 negara dan 33 industri.
Berikut adalah beberapa poin-poin kunci dari penelitian ini:
- Bahkan jika resesi berakhir, CEO 79% mengharapkan lingkungan bisnis untuk menjadi lebih kompleks dalam tahun-tahun mendatang.
- Lebih dari setengah dari CEO meragukan kemampuan mereka untuk mengelola kompleksitas meningkat.
- CEO Barat mengantisipasi kekuatan ekonomi dengan cepat beralih ke pasar berkembang, dan meramalkan peraturan lebih berat ke depan.
- Mayoritas CEO mengutip kreativitas sebagai kualitas kepemimpinan yang paling penting yang diperlukan untuk mengatasi kompleksitas berkembang.
Kreativitas dalam konteks ini adalah tentang kepemimpinan kreatif – yaitu, kemampuan untuk melepaskan keyakinan lama dipegang dan datang dengan konsep radikal asli dan pada waktu dan eksekusi. Dan ini membutuhkan keberanian, berpikir terobosan. Kami percaya, bagaimanapun, bahwa ini bukan tentang memiliki seorang pemimpin yang kreatif sendirian di atas melainkan tentang menciptakan “lapangan” kepemimpinan yang kreatif, dengan memicu kreativitas kolektif organisasi dari bawah ke atas. Pada dasarnya, pemimpin kreatif unggul dalam menciptakan pemimpin kreatif. (more…)
Dalam hidup, membuat suatu perencanaan adalah hal yang penting, sehingga segala sesuatu dapat berjalan sesuai dengan keinginan. Begitupun dalam pekerjaan. Perencanaan kegiatan sehari-hari perlu dilakukan agar tidak ada satupun pekerjaan yang lupa untuk diselesaikan. Namun, bagaimanakah membuat rencana kegiatan yang baik?
Ngobrol bersama di @CosmopolitanFM bersama @alexsriewijono dan @DikaPradipta kali ini pun membahas tentang “To Do List.” Bagaimana sih cara memiliki To Do List yang memang membantu kita dan tidak hanya memanjakan kita?
Hal utama yang harus dipahami dalam membuat suatu rencana kegiatan adalah pahami diri Anda. Perencanaan yang baik tidak akan dapat terlaksana jika ternyata tidak sesuai dengan diri Anda. Dengan memahami cara kerja Anda, jam energi optimal Anda, serta kekurangan Anda, maka rencana kerja yang dibuat juga akan menjadi lebih realistis. (more…)
Smell good, smell fun…
Perfume sudah tidak asing lagi digunakan, mulai dari yang beraroma segar sampai beraroma memabukkan, mulai dari harga kaki lima sampai harga tak masuk akal. Memilih parfume ternyata tidak mudah, aroma yang kita sukai belum tentu cocok dengan aroma tubuh kita sendiri, sehingga tidak menghasilkan kolaborasi yang enak untuk dinikmati oleh orang lain.
Aroma tertentu bisa jadi membuat mood seseorang jadi baik atau sebaliknya, nah seni memilih aroma ini yang harus kita kuasai. Pasti akan sangat menyenangkan jikalau rekan kita dikantor yang tadinya sedang tak bersemangat, namun karena di stimulasi aroma segar dan harum tiba-tiba bisa bersemangat kembali, atau yang tadinya sedang dalam keadaan marah karena mengecap aroma lembut menyejukkan menjadi calm down.
Memberikan “aroma” dalam bekerja sebaiknya dilakukan dengan cara baik yang menyenangkan. Kontribusi yang bisa kita berikan hendaknya selaras dengan kebutuhan dan kemampuan kita sendiri.
Pilihan aroma rasa ada ditangan anda. Apa “aroma” Anda? Apa arti “perfume” bagi Anda dalam karir? Mari share di #tweet2think minggu ini






